KH. Mohammad Isa Anshary

Masa setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan periode kedua Persis sesudah kepemimpinan KH Zamzam, KH Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Mohammad Natsir yang mendengungkan slogan “Kembali kepada Alquran dan As-Sunnah”. Pada periode kedua ini, salah seorang tokoh Persis yang pernah memimpin adalah KH Mohammad Isa Anshary.

KH Mohammad Isa Anshary lahir di Maninjau Sumatra Tengah pada 1 Juli 1916. Pada usia 16 tahun, setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Islam di tempat kelahirannya, ia merantau ke Bandung untuk mengikuti berbagai kursus ilmu pengetahuan umum. Di Bandung pula, ia memperluas cakrawala keislamannya dalam Jam’iyyah Persis hingga menjadi ketua umum Persis.

Tampilnya Isa Anshary sebagai pucuk pimpinan Persis dimulai pada 1940 ketika ia menjadi anggota hoofbestuur ( Pusat Pimpinan ) Persis. Tahun 1948, ia melakukan reorganisasi Persis yang mengalami kevakuman sejak masa pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan. Tahun 1953 hingga 1960, ia terpilih menjadi ketua umum Pusat Pimpinan Persis.

Selain sebagai mubaligh, Isa Anshary juga dikenal sebagai penulis yang tajam. Ia termasuk salah seorang perancang Qanun Asasi Persis yang telah diterima secara bulat oleh Muktamar V Persis ( 1953 ) dan disempurnakan pada Muktamar VIII Persis ( 1967 ).

Dalam sikap jihadnya, Isa Anshary menganggap perjuangan Persis sungguh vital dan kompleks karena menyangkut berbagai bidang kehidupan umat. Dalam bidang pembinaan kader, Isa Anshary menekankan pentingnya sebuah madrasah, tempat membina kader-kader muda Persis.

Semangatnya dalam hal pembinaan kader tidak pernah padam meskipun ia mendekam dalam tahanan Orde Lama di Madiun. Kepada Yahya Wardi yang menjabat ketua umum Pimpinan Pusat Pemuda Persis periode 1956-1962, Isa Anshary mengirimkan naskah “Renungan 40 Tahun Persatuan Islam” yang ia susun dalam tahanan untuk disebarkan kepada peserta muktamar dalam rangka meningkatkan kesadaran jamaah Persis.

Melalui tulisannya, Isa Anshary mencoba menghidupkan semangat para kadernya dalam usaha mengembangkan serta menyebarkan agama Islam dan perjuangan organisasi Persis. Semangat ini terus ia gelorakan hingga wafatnya pada 2 Syawal 1389 H yang bertepatan dengan 11 Desember 1969.

Coretan Mengenang “Pun Uwa”

الحمد لله الذى انعم علينا بنعمة الايمان والاسلام . نعمةً جزيلةً على الدوام الى يوم مَرْجِعِ جميعِ الاَنام . واشهد انْ لا اله ا لاّ الله المَلِكُ القدّوس السلام . وأشهد انّ سيدنا محمّدا عبده ورسوله ذُوالمُعجِزة الدائمة الى اخرالا يّام

(امّابعد)

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقةٍ جاريةٍ، أو علمٍ ينتفعُ بهِ، أو ولدٍ صالحٍ يدعوُ لهُ

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Taqdir Alloh telah menetapkan bahwa jatah umur Alm. Ustad Tonny Rustandi sudah habis, ajalnya sudah sampai. Beliau meninggalkan kita pada hari Minggu sekitar jam 9 pagi dalam usia 57 tahun.

Mudah-mudahan almarhum pulang dengan membawa Iman dan Islam, dimaafkan semua kesalahan, diterima semua amal ibadahnya, diterangkan kuburnya, mengalir amal jariyahnya, bermanfaat bagi kita dan beliau ilmu yang telah diajarkan, digantikannya oleh Alloh SWT penganti sebagai generasi penerus yang beramal ma’ruf nahyi munkar, maka tugas kitalah yang masih hidup, masih diberi kesehatan dan waktu untuk melanjutkan perjuangan dakwah sesuai dengan tuntunan yang digariskan Alloh melalui lisan Rosulnya, mudah-mudahan beliau meninggal dalam dengan jiwa muthmainnah, seperti yang digambarkan dalam al-Quran.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi
diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam Surga-Ku.” (QS. Al-Fajr:27-30)

saya berwasiat dengan taqwa, taqwa yang oleh Ali bi Abi Tholib RA disebutkan dengan alisti’dadu li yaumir rohiel (mempersiapkan diri pada hidup sesudah mati). Oleh karena itu, marilah hal ini kita jadikan ibroh (pelajaran) bahwa sesungguhnya manusia itu sedang menjemput ajal, seperti orang yang akan berlayar dengan perahu menuju kampung akhirat, ada yang masih dijalan, ada yang sudah masuk perahu, ada yang sudah sampai kampung akhirat. Atau seperti antrian yang sedang diabsen, hai fulan! Engkau sudah waktunya, hai fulanah! Engkau sudah waktunya. Dan ajal ternyata tidak pandang bulu, tidak karena anak-anaknya masih kecil yang perlu diurus sehingga ajal ditunda, masih muda, masih sehat, kaya, miskin, semua akan mati jika ajalnya sudah sampai.

Saya teringat kejadian yang belum lama ini terjadi, ada seseorang yang sedang berdiri dibawah jembatan layang pasopati (mungkin sedang berteduh atau sedang menunggu seseorang), tiba-tiba ban mobil yang sedang melaju di jalan layang tersebut lepas, menggelinding dan dan jatuh menimpa orang yang sedang diam dibawah jembatan tersebut, dan akhirnya meninggal. Itulah ajal, jika sudah tiba, maka tidak akan bisa ada yang menolak.

Kejadian-kejadian seperti ini, jika hati tidak terketuk, kita tidak memikirkan bahwa kejadian-kejadian serupa bisa saja menimpa kita, bertanyalah kepada diri sendiri, ada apa dengan iman kita? Sudah siapkan kita? Sudah sampai mana bekal yang sudah kita kumpulkan? Sudah siapkah kita dengan pertanyaan yang akan diajukan malaikat?.
Saya ingat ucapan beliau, katanya, “bahwa kalau membandingkan kepada usia Rosululloh SAW, bahwa usia saya tinggal 3 tahun lagi” (usianya ketika meninggal itu 57 tahun). Ternyata 3 tahun lebih cepat. Artinya kalau boleh kita katakan, jika umur sudah kepala 5 keatas, kalau tidak siap-siap gimana jadinya, orang yang siap-siap saja, bisa jadi selamat bisa jadi tidak, kita tidak tahu, apalagi yang tidak bersiap-siap. Tentu saja itu bukan berarti usia dibawah kepala 5 tidak akan mati.

Tadi saya membacakan sebuah hadits shohih riwayat Muslim.

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Jika menilik kepada hadits ini, ternyata hanya tiga perkara saja yang ada di dunia ini yang mengalir pahalanya sampai mati, dan ternyata semua itu hasil usaha dari si mati selama hidup di dunia, sedekah jariyah itu adalah usahanya, ilmu yang bermanfaat, hasil usahanya belajar dan mengajarkan, termasuk anak yang sholeh, adalah hasil didikan si mati, walaupun tidak didik, tetaplah orangtua memberi andil kepada si anak, karena dengan benih kedua orangtualah anak bisa dikandung dann dilahirkan.

Oleh sebab itu sayaberpesan, perbanyaklah sedekah jariyah, membantu orang lain, memberikan wakaf, janganlah kita sebut-sebut dengan harapan penghargaan dan pujian dari orang lain, jangan sampai pahala kita yang harusnya jadi amal jariyah, justru hilang bagai tertiup angin, digantikan hanya dengan pujian dan penghargaan dari manusia semata.

Banyaklah menuntut ilmu dan ajarkan kalau sudah bisa, karena menuntut ilmu adalah wajib, tholabul ilmu faridotun a’la kulli muslimin, banyaklah bertanya kepada ahlinya, sampaikan ilmu itu oleh yang hadir kepada yang tidak hadir. Sebagai contoh, coba hadirin pikirkan, jikalau wudhu kita salah, apakah sholat kita sah, wuhdu adalah syarat sah sholat, jika wudhu tidak sah maka sholatpun tidak sah. Tidak ada asalan kita tidak tahu, karena menuntut ilmu adalah wajib.

Didiklah anak-anak kita supaya menjadi anak sholeh, karena anak yang sholeh adalah aset kita didunia dan diakhirat. Awasi pergaulannya, perhatikan tingkah lakunya. Anak adalah titipan Alloh, jangan sampai anak kita sendiri yang justru menuntut kita diakhirat, “kenapa saya tidak dididik, kenapa saya tidak diajarkan agama”. Celaka kita!.

Ada yang harus sayasampaikan berkenaan dengan ajaran Islam terhadap orang yang meninggal dunia. Kewajiban kita terhadap yang meninggal dunia adalah 1. memandikan, 2. membungkus, 3. menyolatkan, 4. mengubur.
Setelah memandikan, membungkus, dan menyolatkan, lalu si mayat dimasukkan ke liang lahad (liang lahad, biasanya kita menyebut “liang lahat”, jika dilihat lafazh arabnya itu pakai huruf dal, jadi lahad, adalah cekungan memanjang di sisi arah kiblat tempat menyimpan mayat, ada juga yang disebut syaq, adalah lubang kecil memanjang didasar tengah lubang kubur tempat menyimpan mayat. Yang lazim disini adalah lahad, dan syaq itu bermasalah, sebab ada keterangan “bahwa lahad itu untuk kita dan syaq itu untuk selain kita), ucapkan “Bismilla-hi wa ‘ala millati Rasu-lilla-hi”, hadapkan ke kiblat, dan tidak di-azhan-kan.

Perlu diketahui, bahwa fungsi adzan adalah sebagai pertanda sudah masuk waktu sholat yang maktubah sekaligus sebagai ajakan untuk sholat berjamaah, Rosululloh dan sahabat serta orang setelahnya tidak pernah ada yang melakuan adzan kepada mayat, mengadzankan mayat itu adalah salah alamat, tidak mungkin mayat akan melakukan sholat, maka tidak heran tidak ada satupun hadits yang menerangka tentang azhan saat menguburkan mayat. Dan setelah selesai do’akanlah dan mintalah ampunan kepada Alloh dan ketetapan hati karena mayat sedang ditanya.

Ada kebiasaan yang berkembang ditengah masyarakat berkenaan dengan menggalnya sesoorang atau anggota keluarga yaitu tahlilan.

Dengan tidak bermaksud menyerang suatu kelompok atau golongan atau perorangan, dan tidak bermaksud menyudutkan suatu kelompok atau golongan atau seseorang, ini semata-mata ingin menyampaikan kepada ilmu kepada yang belum tahu atau yang ingin tahu. Dan sekaligus menjelaskan kenapa Ust. Tonny Rustandi tidak di-tahlilan-kan. Jangan sampai terjadi mis komunikasi atau salah faham disebabkan ketidaktahuan permasalahannya.

Harus kita jelaskan dulu, tahlil adalah mengucapkan kalimat tauhid la ilaha illalloh, seperti juga takbir mengucapkan kalimah Allohu Akbar, tahmid mengucapkan kalimah Alhamdulillah, tasbih mengucapkan kalimah subhanalloh, ta’awwudz mengucapkan kalimah a’udzubillahi minasysyaithonirrojiem.

Tahlilan adalah sebuah ritual berkumpulnya orang-orang di rumah setelah wafatnya seseorang 1,3,7,40,100,1000 hari yang biasanya diisi dengan membaca surat yaasin, tahlil, tahmid, shalawat mendoakan dan menghadiahkan bagi si mayat dan setelah selesai biasanya diadakan acara makan-makan . Atau ada juga yang melaksanakan tahlilan tiap malam ju’mat.

Jika kita buka tarikh atau hadits, maka acara tahlilan ini tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosululloh, para sahabat, saat masa khulafaur rosidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, Tabiin, Tabiut tabiin, Imam Mazhab: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hambali, dll.

Jika tidak ada dalam hadits, dalam tarikh, atau siroh nabawi, dari mana asul-usul tahlilan ini?
Dalam catatan sejarah bahwa asal mula tahlilan ini adalah buah karya dari walisongo aliran tuban yang diketuai Sunan Kalijaga.

Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang diprakarsai diantaranya oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim, silsilah ke-12 dari pendiri jam’iyah Muhammadiyah) pada tahun 1404 atau tahun 808 Hijriah. Walisongo meyebarkan agama Islam di Pulau Jawa bertepatan saat berakhirnya kerajaan Hindu. Masa ini disebut masa transisi atau masa pergantian, penduduk waktu itu beragama Hindu, Budha, juga animisme, dinamisme dan paganisme.

Kebiasaan penduduk waktu itu diantaranya adalah Pinda Pitre Yajna, adalah keyakinan bahwa manusia mati sebelum karma, manusia masah ada, 1-7 hari rohnya masih di rumah, setelah itu pergi ke ahkerat, pada 40, 100, 1000 roh kembali lagi ke rumah keluarganya, maka pada hari-hari itu harus diadakan ritual, nyanyian, mantra agar menjadi karma, reinkarnasi manjadi manusia baik-baik.

Nah, walisongo mengalami kendala karena kebiasaan ini sudah mendarah daging dan susah dihilangkan. Dalam menghadapi masalah ini, terjadilah dua kelompok atau aliran dalam walisongo, yaitu aliran giri dan aliran tuban.
Aliran giri diprakarsai oleh Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Drajat. Aliran ini dalam masalah ibadah tidak mengenal kompromi dengan ajaran Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, Paganisme. Maka orang yang dengan sukarela masuk Islam harus meninggalkan ibadah yang bukan dari Islam. Karena kekonsistenan ini makan aliran ini disebut Islam Putih, dan pengikutnya sedikit.

Sedangkan aliran Tuban yang diprakarsai oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Muria, dikenal dengan pemahaman yang toleran. Mereka membolehkan melaksanakan kebiasaan peninggalan Hindu diantaranya Pinda Pinte Yajna tapi materinya diganti, mantra diganti dengan bacaan al-Quran, wiriz, dzikir dsb. Maka pengikutnya juga banyak, termasuk raja-raja Jawa yang tadinya Hindu mau masuk Islam.

Dalam musyawarah, Sunan Ampel pernah menanyakan hal ini kepada Sunan Kalijaga “Apakah tidak dikhawatrikan hal ini nantiya dianggap bagian dari ajaran Islam, apakah hal ini tidak akan menjadi bid’ah”?.

Dari catatan sejarah ini kita dapat kita lihat bahwa Pinda Pinte Yajna inilah yang sekarang dikenal sebagai tahlilan.
Maka tidak heran jika tahlilan juga tidak dikenal dinegara lain seperti mesir, saudi, palesitna, dll. Malahan teman forum saya di internet, kebetilan ia orang Aceh, katanya ia tidak mengenal ini yang ada hanya ta’ziah selama tiga hari. Dan ketika masalah ini di ajukan di forum, ada yang tersinggung dan marah, tapi kebanyakan mereka justru baru tahu bahwa tahlilan itu tidak ada perintah dan contohnya dari Rosululloh SAW.

Wallohu a’lam

Surat-Surat Islam Dari Endeh

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno

Bung Karno sosok perkasa ini akan selalu dikenang sebagai toko dunia yang lahir dari rahim Indonesia, rahim Nusantara. Pemikiran-pemikiran bung Karno ibarat mutiara yang senantiasa selalu bersinar, salah satunya adalah pemikiran bung Karno tentang Islam. Pemikiran yang sangat maju dijamannya, bahkan hingga saat ini sehingga tidak banyak yang dapat menerima, bahkan merasa terancam oleh pemikiran bung Karno ini. Dengan pemikiran-pemiran tersebut bung Karno konon khabarnya diangkat menjadi Tokoh Pembaharu disandingkan dengan sederet nama tokoh islam, namun kemudian gelar itu dihapuskan oleh pemerintah Soeharto dikarenakan dianggap pemikiran bung Karno mengarah pada konsep-konsep sekuler.

Dalam kurun waktu 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 tercatat surat menyurat bung Karno yang berisikan pemikiran beliau tentang Islam, Salah Satu Jargonya yang cukup menyengat dan pedas adalah “Islam Sontoloyo”.

Saya mencoba menghadirkan surat-menyurat bung Karno dari Endeh secara bersambung, semoga dapat kita renungakan bersama, isi dari surat menyurat itu tidak saya edit saya tampilkan apa adanya, saya hanya memberikan sedikit ulasan pada bagian awal dan bagian akhir. Semoga surat menyurat ini dapat mencerdaskan kita semua dan dapat menghidupkan api Islam di negeri tercinta ini, bung Karno telah melihat bahwasanya kebangkitan Islam di negeri ini adalah kebangkitan negeri ini, oleh karenanya mari kita selami pemikiran beliau untuk kemajuan bangsa Indonesia.

=====================================================

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 1 Desember 1934

Assalamu’alaikum,

Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini : Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al Muctar, Debat Talqien. Al Burhan Complete, Al Jawahir.

Kemudian, jika saudara-saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid”. Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal “sajid” itu, tetapi toch menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengamatan manusia yang menghampiri kemusrikan itu. Alasaan-alasan kaum “sajid” misalnya, mereka punya “brosur kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu “Aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebathilan!.

Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.

Wassalam,

SUKARNO

=====================================================

Endeh, 25 Januari 1935

Assalamu’alaikum,

Kiriman buku-buku gratis berserta karto pos, telah saya terima dengan girang hati dan terimakasih yang tiada hingga. Saya menjadi termenung sebentar, karena tak selayaknya di limpahi kebaikan hati saudara yang sedemikian itu. Ya Allah Yang Maha Murah!.

Pada ini hari semua buku dari saudara yang ada pada saya, sudah habis saya baca. Saya ingin sekali membaca lain-lain buah pena saudara. Dan ingin pula membaca “Bukhari” dan “Muslim” yang sudah tersalin dalam bahasa Indonesia atau Inggris saya perlu kepada Bukhari dan Muslim itu, karena di situlah di himpun hadis-hadis yang sahih. Padahal saya membaca keterangan dan salah seorang pengenal Islam bangsa Inggris, bahwa di hadis-hadis Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia menerangkan bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketahayulan orang Islam, banyaklah karena hadis lemah itu, yang sering lebih “laku” dari ayat-ayat Al Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar. Berapa besarkah bencana yang telah datang pada umat Islam dari misalnya “hadis” yang mengatakan bahwa “dunia” bagai senai akherat bagi orang “muslim”, atau “hadis” bahwa satu jam bertafakur adalah lebih baik dari pada beribadah satu tahun, atau “hadis” , bahwa orang-orang Mukmim harus lembek dan menurut seperti unta yang telah di tusuk hidungnya!.

Dan adakah persatuan Islam sedia sambunganya Al Burhan I – II ? pengetahuan saya tentang “Wet” mendesak kepada “Dien”

Haraplah sampaikan saya punya compliment kepada Tuan Natsir atas ia punya tulisan-tulisan yang memakai bahasa Belanda. Anatara lain ia punya Inleiding di dalam “Komt tot bet gebed” adalah menarik hati.

Wassalam dan Silaturrahmi.

SOEKARNO

=====================================================

Surat-surat Islam dari Endeh 2

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 26 Maret 1935

Assalamu’alaikum W.w.,

Tuan punya kiriman pos paket telah tiba ditangan saya, seminggu yang lalu. Karena terpaksa menunggu kapal, baru ini harilah saya bisa menyampaikan kepada Tuhan terima kasih kami laki-isteri serta anak. Biji jambu mede menjadi “ganyeman” seisi rumah; di Edeh ada juga jambu mede, tapi varieteit “liar” , rasanya tak nyaman. Maklum , beluma ada orang yang menanam varieteit yang baik. Oleh karena itu , maka jambu mede itu menjadikan pesta. Saya punya mulut sendiri tak berhenti-henti mengunyah!.

Buku yang tuan kiriman itu segera saya baca. Terutama “Soal-Djawab” adalah suatu kumpulan jawahir-jawahir. Banyak yang semula kurang terang, kini lebih terang. Alhamdullilah!.

Saya belum ada Bukhari dan Muslim yang bisa dibaca. Betulkah belum ada Bukhari Inggris? Saya pentingkan sekali mempelajari hadis, oleh karena saya tuliskan sedikit di dalam salah satu surat saya yang terdahulu, dunia Islam menjadi mundur oleh karena banyak orang di “jalankan” hadis yang dhaif dan yang palsu. Karena hadis-hadis yang demikian itulah, maka agama Islam menjadi diliputi oleh kabut-kabut kekolotan, ketahayulan bid’ah, anti rasionalisme, dll. Padahal tak ada agama yang lebih rasional dan simplistic daripada Islam. Saya ada sangkakan keras bahwa rantai taqlid yang merantai ruh dan semangat Islam dan yang merantaikan pintu-pintu Bab el Ijthiad, antara lain, ialah hasilnya hadis-hadis yang dhaif dan palsu itu. Kekolotan dan kekonsevatifan-pun dari situ datangnya. Karena itu adalah saya punya keyakinan yang dalam, bahwa kita tak boleh menghasilkan harga yang mutlak kepada hadist. Walaupun menurut penyelia diakatakan SHAHIEH. Human reports (berita yang datang dari manusia) tak absolute, absolute hanyalah kalam Ilahi. Benar atau tidaknya pendapat saya ini? Di dalam daftar buku, saya baca Tuan ada sedia “Jawahirul-Bukhari”. Kalau Tuah tiada keberatan , saya minta buku itu, niscaya di situ banyak pengetahuan pula yang saya bisa ambil.

Dan kalau Tuan tidak keberatan pula, saya minta “keterangan hadis mi’raj”. Sebab, saya mau bandingkan dengan saya punya pendapat sendiri, dan dengan pendapat Essad Bey, yang di dalam salah satu bukunya ada mengasih gambaran tentang kejadian ini. Menurut keyakinan saya, tak cukuplah orang menafsirkan mi’raj itu dengan percaya saja, yakni dengan mengecualikan keterangan “akal”. Padahal keterangan yang rasional di sini ada. Siapa kenal sedikit ilmu psikologi dan para psikologi, ia bisa mengasih keterangan yang rasionalitis itu. Kenapa suatu hal harus “dighaibkan” kalau akal bisa menerangkan ?.

Saya ada keinginan pesan dari Eropa, kalau Allah mengabulkannya dan saya punya mbakyu suka membantu uang harganya, bukunya Ameer Alie “The Spirit Of Islam”. Baiklah buku ini atau tidak? Dan dimana uitgevernya ?

Tuan, kebaikan budi Tuan kepada saya, hanya sayalah yang merasai betul harganya, saya kembalikan lagi kepada Tuhan. Alhamdulilah, segala puji kepadaNya.

Dalam pada itu, kepada Tuan 1.000 kali terimakasih.

Wassalam,

SUKARNO

=====================================================

Satu yang saya kagumi dari bung Karno adalah semanagatnya untuk belajar, dalam kondisi di asingkan seperti itu, jika saya mungkin saya sudah memikirkan entah tentang apa, namun bung Karno masih memikirkan buku, dan terus ingin membaca buku karena bung Karno meyakini bahwa Bab El Ijtihad tidak boleh di tutup, tidak boleh ada sesuatu yang dibakukan karena pembakukan sesuatu akan bertentangan dengan hukum alam yang selalu bergerak, selalu hidup.

Buat bung Karno pemahaman adalah sesuatu yang hidup, agama adalah sesuatu yang dinamis yang harus terus diperbahartui pemahamannya dari waktu ke waktu, pemahaman kitalah yang perlu diperbaharui, bukan agamanya.

oleh karenanya yang dulu ghaib sekarang bisa jadi dengan kemajuan science menjadi bukan ghaib lagi, semisal bagaimana air dapat mensucikan tubuh dan jiwa kita ketika seseorang berwudhu. Dari doa dan niat yang kita pancarkan melalui getar pikiran merubah Kristal-kristal air sehingga mempengaruhi tubuh dan jiwa, hal ini sudah dibuktikan oleh ilmuan dari Jepang. Semisal segela air yang di bacakan doa Kristal airnya akan berubah, dan ketika diminum dapat merubah Kristal air yang ada di dalam tubuh danpaknya adalah kesehatan. Banyak sekali yang dulunya ghaib namun sekarang sudah dapat dijelaskan oleh kemajuan teknologi dan pengetahuan manusia.

Termasuk di singgung oleh bung Karno mengenai Is’ra dan Mi’raj, bung Karno tidak mengatakan bahwa dia tidak mempercayai peristiwa itu, namun coba kita gali lagi, coba kita renungkan lagi, pasti ada makna yang tersembunyi di balik itu. Dan bung Karno mengajak kita untuk merenungkan hal itu, menggali akan hal itu.

Dan itulah yang membuat bung Karno menjadi besar dan tetap dikenang sepanjang masa, saatnya kita kembali membuka Bab El Ijtihad, boleh jadi anda tidak setuju, itu urusan anda, namun juga jangan merecoki mereka-mereka yang tengah mencoba berijtihad untuk memperbaiki keimanan mereka, untuk memperbaiki khadari cinta mereka. Hidupmu adalah hidupmu, itu urusanmu, dan hidupku adalah hidupku dan itu menjadi urusanku, menjadi tanggungawajabku terhadap Allah. Dan aku dengan sangat sadar, menyadari bahwa setiap perbuatanku akan aku pertanggungjawabkan dihapan Allah. Dan aku tidak akan bersembunyi dibalik bujuk rayu setan atau kehilafan atau apapun jika aku salah, aku akan dengan jujur mengatakan bahwa aku salah, dan aku mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, oleh karenanya saat ini aku membuka kembali Bab El Ijtihad agar aku dapat terus memperbaiki diriku.

So mari kita buka kembali Bab El Ijtihad yang sudah kita lupakan.

=====================================================

Surat-surat Islam dari Endeh 3

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 17 Juli 1935

Assalamu’alaikum,

Telah lama saya tidak kirim surat kepada Saudara. Sudah kah saudara terima saya punya surat yang akhir, kurang lebih dua bulan yang lalu ?.

Kabar Endeh: sehat wal’afiat, Alhamdullilah. Saya masih terus studi Islam, tetapi saya kekurangan perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis “termakan”. Maklum, pekerjaan saya sehari-hari , sudah cabut-cabut rumput di kebun dan di samping “mengobrol” dengan anak bini buat menggembirakan mereka, sisa waktu saya pakai untuk membaca saja. Berganti-ganti membaca buku-buku Ilmu Pengetahuan Sosial dengan buku-buku yang mengenai Islam. Yang belakangan ini, dari tangan orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangan kaum Ilmu Pengetahuan yang bukan Islam.

DI Endeh sendiri tak seorangpun yang bisa saya tanyai, karena semuanya memang kurang pengetahuan (seperti biasa) dan kolot bin kolot. Semuanya hanya bertaqkid saja zonder tahu sendiri apa-apa yang pokok; ada satu dua pengetahuan sedikit, di Endeh ada seorang “sajid” yang sedikit terpelajar, tetapi tidak dapat memuskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun dari “kitab Fiqih”: mati hidup dengan kitab fiqih itu, dus-kolot, dependent, unfree, taqlid, Quran Api Islam seakan-akan mati, karena kitab fiqih itulah yang seakan-akan menjadi algojo “Ruh” dan “Semangat” Islam. Bisa sebagai misal, satu masyarakat itu hanya dialaskan saja kepada “Wetboek van starafrecht” dan “Burgerlijk Wetboek”, kepada artikel ini dan artikel itu? Masyarakat yang demikian itu akan segera menjadi masyarakat “mati”, masyrakat “bangkai”, masyarakat ialah justeru ia punya hidup, ia punya nyawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada ruh, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sekali tenggelam di dalam “kitab-fiqih” itu tidak terbang seperti burung Garuda di atas udara-udaranya agama yang hidup.

Nah, negitulah keadaan saya di Endeh; mau menambah pengetahuan, tetapi kurang petunjuk. Pulang balik kepada buku-buku yang ada saja. Padahal buku-buku yang tertulis oleh autoriteit-autoriteit ke Islaman itu pun, masih ada yang mengandung beberapa hal yang belum memuaskan hati saya, kadang-kadang malahan bertolak oleh hati dan ingatan saya. Kalau di negeri ramai, tentu gampang melebarkan saya punya sayap. . . . .

Alhamdulliah, antara kawan-kawan saya di Endeh, sudah banyak yang mulai luntur kekolotan dan kejumudannya. Kini mereka mulai sehaluan dengan kita dan tidak mau mengambing saja lagi kepada kekolotan lagi kepada kekolotannya, ketahayulannya, kemusyrikannya dan mulai terbuka hatinya buat agama yang “hidup”.

Mereka ingin baca buku-buku Persatuan Islam, tetapi karena malaisme, mereka minta kepada saya mendatangkan buku-buku itu dengan separuh harga. Sekarang saya minta keridhaan Tuan mengirimkan buku-buku yang saya sebutkan dibawah ini dengan separuh harga…. Haraplah Tuan ingatkan, bahwa yang mau baca buku-buku ini adalah korban-korban malaisme, dan bahwa mereka pengikut-pengikut baru dari haluan muda. Alangkah baiknya kalau mereka itu bisa sembuh sama sekali dari kekolotan dan kekonservatifan mereka itu; Endeh barangkali bukan masyrakat mesum sebagai sekarang !.

Bagi saya sendiri, saya minta kepada saudara hadiah satu dua buku apa saja yang bisa menambah pengetahuan saya, terserah kepada saudara buku apa.

Terima kasih lebih dahulu, dari saya dan kawan-kawan di Edeh.

Sampaikan salam saya kepada saudara-saudara yang lain.

Wassalam,

SUKARNO.

=====================================================

Ah, kekolotan. Bung Karno pernah cerita sewaktu di Edeh ketika sedang diskusi mengenai Islam dan Ilmu pengetahuan social lainnya, temperature sempat naik menjadi 180 derajat, hal ini di karena kekolotan, dan apa yang di lakukan oleh Bung Karno hanya tertawa dan berlalu.

Kita tidak dapat berdikusi dengan mereka yang kolot, yang bisa di lakukan hanyalah berlalu. Mungkin di dalam berlalunya itu kita akan di cemooh dan dikatai sebagai pengecut, namun cemoohan itu tidak membuat diri kita menjadi pengecut. Karena betapa rendahnya diri kita jika keperkasaan atau kejantanan di nilai dari sebuah ajang perdebatan.

Dan kekolotan itu berasal dari kurangnya pengetahuan, kurangnya pengalaman, Bukan kerena bodoh, meski orang yang kolot sering kali berlaku bodoh. Mungkin bisa jadi orang yang klolot memiliki segudang pengetahuan, tetapi tidak pernah di praktekan, mirip burung beo. Bisa dan pintar bekata-kata tetapi tida mengerti apa yang diucapkannya, tiada pernah menyelami, tiada pernah mengalami, semua berdasarkan katanya.

So saatnya membuka diri , dan biarkan hawa segar ilmu pengatuah dari segala penjuru arah menyegarkan diri kita, boleh jadi kita tidak setuju dengan kelembabannya, namun jangan ditolak, biarkan saja, karena bisa jadi esok anda dapat memahami kelembabannya tersebut. Kelembabam itu tidak akan pernah dapat menyesatkan kita, karena apa karena saat ini di dunia ini kita semua sedang tersesat. Oleh karena di dalam doa kita berucap kepada Allah, “Ya Allah Ya Rabb Tunjukilah aku jalan yang lurus dan benar”, andai kita sudah tahu mana jalan lurus dan benar itu kita tidak akan berdoa seperti itu dan kita juga sudah tidak berada di sini. Sahabat saya, sekaligus guru, Pak Triwidodo pernah menulis di dalam artikelnya Renungan Kesembilan Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda,: “Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru , ulangi niat itu dalam hati………

Hanya niat sahabat, hanya niat dan itu sudah cukup.

=====================================================

Surat – Surat Islam Dari Endeh 4

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 15 September 1935,

Assalamu’alaikum,

Paket Pos telah kami ambil dari kantor pos, kami di Endeh semua menyampaikan banyak terimakasih atas potongan 50% yang Tuan izinkan itu. Kawan-kawan semua bergirang, dan mereka bermaksud lain kali akan memesan buku-buku lagi, Insya Allah.

Saya sendiripun tak kurang-kurang berterimakasih, mendapatkan hadiah lagi beberapa brochures. Isinya brochure kongres Palestina itu, tak mampu menangkap “Center Need Of Islam”. Di Palestina orang tak lepas dari convensionalusm, tak cukup kemampuan buat mengadakan perubahan yang radikal di dalam aliran nyata membawa Islam kepada kemunduruan. Juga pimpinan kongres itu ada “rumit”, orang seperti tidak tahu apa yang dirapatkan, bagaimana caranya tehnik kongres. Program kongres yang terang dan nyatapun tidak ada. Orang tidak zangkelijk, dan saya kira kongres itu, orang terlalu “menutup pantat satu sama lain” terlalu “caressing each other”, terlalu “mekaar lekker maken”. Memang begitulah gambarannya di dunia Islam sekarang ini : kurang ruh yang nyata, kurang tenaga yang wujud, terlalu membedaki satu sama lain”, terlalu membanggakan sesuatu negeri Islam yang ada sedikit berkemajuan. Orang Islam biasanya sudah bangga kepada “Mesir” dan “Turki”! terlalu mengutamakan pulasan-pulasan yang sebenarnya tiada tenaga ! ! !

Brosur yang lain-lain sedang saya baca, Inya Allah nanti saya akan ceritakan kepada Tuah saya punya pendapat tentang brosur-brosur itu. Terutama brosurnya Tuan A.D Hasnie saya perhatikan betul-betul. Buat sekarang ini, sesudah saya baca brosur Hasnie sambil lalu, maka bisalah saya katakana bahwa “cara pemerintahan Islam” yang diterapkan di situ itu, tidaklah memuaskan saya, karena kurang “up to date”. Begitulah hukum kenegaraan Islam?, Tuah A. D. Hasnie menerangkan, bahwa dekorasi parlementer itu menyelamatkan dunia ?. Memang sudah satu anggapan-tua, bahwa demokrasi parlementer itu puncaknya ideal cara pemerintahan. Juga Moh. Ali di dalam ia punya tafsir Al-Quran yang terkenal, mengatakan bahwa itu idealnya Islam. Padahal ada cara pemerintahan yang lebih sempurna lagi, yang juga bisa dikatakan cocok dengan azas-azas Islam!.

Kejadian di Bandung yang Tuan beritakan, sebagian saya sudah tahu, bagaimana belum tahu. Tuan telah punya anak telah dipanggil lagi ketempat asalnya. Saya bisa menduga Tuan punya duka cinta, dan saya pun semakin insyaf, bahwa manusia punya hidup adalah sama sekali di dalam gemgaman illahi. Yah, kita harus tetap tawakal, dan haraplah Tuan suka sampaikan saya punya ajakan tawakal itu kepada saudara-saudara yang lain-lain, yang juga di timpa kesedihan.

Sampaikan salamku kepada semua.

SOEKARNO.

===========================================================

Endeh, 25 Oktober 1935

Assalamu’alaikum,

Sedikit kabar yang perlu anda ketahui : hari Jumat, malam sabtu 11/12 Oktober yang lalu, saya punya ibu mertua, yang ikut saya ke tanah Intermiran, telah pulang ke rahmatullah. Suatu percobaan yang sangat berat bagi saya dan saya punya isteri, yang alhamdulliah, kami pikul dengan tenang, tawakal dan ikhlas kepada illahi. Berkat bantuan Tuhan. Inggit tidak meneteskan airmata setetespun juga, begitu juga saya punya anak Ratna Juami, semoga Allah senantiasa menguatkan apa yang masih lembek pada kami bertiga. Yang timah menjadi besi, yang besi menjadi baja, amin!. Kesakitan ibu mertua dan wafatnya , adalah menyebabkan saya belum bisa menulis surat yang panjang, maafkanlah! Sakit ibu mertua hanya empat hari.

Wassalam

SUKARNO

=================================================

Bung Karno tengah membangunkan kita semua, membangunkan bangsanya. Satu hal yang Bung Karno yakini adalah jikalau Islam bangkit, maka bangkitlah negeri ini. Namun bukan Islam secara lisan, bukan Islam phisik, bukan Islam biasa, Bukan Islam pulasan-pulasan melainkan ruhnya Islam. Apinya Islam. Jiwanya Islam. Oleh karenanya Bung Karno memberikan perbandingan kemajuan di Negara Islam dengan tuntutan jaman, karena pemahaman kita semua tentang Islam berhenti kepada Negara Islam, berdirinya Negara Islam dan berlakunya Syariat Islam. Islam lebih dari pada undang-undang Syariat, Islam adalah Nikmat bagi Alam Semesta, oleh karenya jikalau Api Islam bangkit, Jikalau Jiwa Islam bangkit maka berjayalah negeri ini. Berjayalah Prikemanuasia dan Prikeadilan.Meski sebuah Negara menggunakan undang-undang syariat jikalau nilai-nilai kemanuas dan cinta kasih tidak tumbuh dan berkembang, maka negeri itu belumlah bangkit jiwa Islamnya.

Di samping itu Bung Karno juga menerangkan bahwa apa yang terjadi kepada kehidupan kita, hendaknya dapat terus memicu terjadinya pengembangan diri (evolusi diri) , Yang timah menjadi besi, yang besi menjadi baja. Dan itulah inti dari surat bung Karno ini, bahwa semua tidak mungkin berhenti, semua sedang bergerak, dan pemahaman kitapun harus terus bergerak, harus terus hidup. Dan itu adalah kehendak Illahi, kehendal Allah Tuhan yang maha esa adanya.

=================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 5

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 14 Desember 1936

Assalamu’alaikum,

Kiriman “Al-lisaan”, telah saya terima mengucapkan diperbanyak terima kasih kepada saudara. Terutama nomor ekstra persoalan “debat taqlid”, adalah sangat menarik perhatian saya. Saya ada maksud insya Allah kapan-kapan, akan menulis suatu artikel pemandangan atas nomer extra taqlid itu, artikel yang nanti boleh saudara muat pula ke dalam “Al-lisaan’. Sebab cocok dengan anggapan Tuan, Soal taqlid ini sangat maha penting bagi kita kaum Islam umumnya. Taqlid adalah salah satu sebab yang besar dari kemunduran Islam sekarang ini. Semenjak ada aturan taqlid, di situlah kemunduruan Islam cepat sekali. Tak heran ! Dimana genius dirantai, dimana akal pikiran diterungku, disitulah datang kematian.

Saudara telah cukuplah keluarkan alasan-alasan dalil Quran dan hadis. Saudara punya alasan-alasan itu , sangat meyakinkan.

Tapi masih ada pula alasan-alasan lain yang menjadi vonis atas aturan taqlid itu alasan-alsan “tarikh”, alasan-alasannya “sejarah”, maka tampaklah di situ akibat taqlid itu sebagai garis ke bawah , garis decline, sampai sekarang . Umumnya kita punya kiai-kiai atau ulama-ulama tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarah, ia boleh saja katakan tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada “agama khusus” saja, dan dari agama khusus ini, terutama bagian fiqih. Sejarah, apa lagi bagian “yang lebih dalam” , yakni yang mempelajari “kekuatan-kekuatan masyarakat” yang “menyebabkan” kemajuan atau kemunduran suatu bangsa, sejarah itu penting. Apa “sebab” mundur? Apa “sebab” bangsa ini dizaman ini begini? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang maha penting yang harus berputar terus-menerus di dalam diri kita punya ingatan, kalau kita mempelajari naik turunnya sejarah itu.

Tetapi bagaimana kita punya kiai-kiai dan ulama-ulama?, Tajwid tetapi pengetahuannya tentang sejarah umumnya “nihil”. Paling mujur mereka hanya mengetahui “tarikh Islam” saja, dan inipun terambil dari buku-buku tarikh Islam yang kuno, yang tidak dapat tahan ujian modern science, yakni tak dapat “tahan” ujiannya pengetahuan modern.

Padahal justeru ini sejarah yang mereka abaikan itu, justeru ini persaksian sejarah yang mereka remehkan itu, membuktikan dengan nyata dan dasyat, bahwa dunia Islam adalah sangat mundur semenjak muncur aturan taqlid. Bahwa dunia Islam adalah laksana bangkai hidup, semenjak ada anggapan bahwa Islam adalah mati geniusnya, semenjak ada anggapan bahwa mustahil ada mujtahid yang bisa melebihi “iman yang empat”, jadi harus mentaqlid saja kepada tiap kali atau ulama dari suatu mazhab imam yang empat itu! Alangkah baiknya, kalau kita punya pemuka agama melihat garis ke bawahnya sejarah semenjak ada taqlid-taqlidan itu, dan tidak hanya mati-redup, bagun-tidur dengan kitab fiqih dan kita parukunan saja!.

Salam kepada Saudara-saudara yang lain.

Wassalam

SUKARNO

=================================================

Apa yang terjadi di Jaman Bung Karno, masih terjadi di sini, pada saat ini. Ketika sedang menunggu waktu berbuka puasa, semua teve menyiarkan siraman rohani, ada yang menarik ibu saya berkomentar, “Kenapa yang dibicarakan hanya surga?, neraka?, dan pahala? . . . . . . . .

Sebenarnya komentar ibu saya masih panjang, mungkin bukan komentar, tetapi itu adalah kebingungan seorang awam, ibu saya adalah seorang awam yang sedang mencoba mengerti tetntang agama, namun selalu terbentur pada akherat, pada surga, pada neraka, pada pahala. Tidakah ada sesuatu yang lebih penting untuk diketahui?, untuk dipelajari?. Setidaknya itu yang saya dapat tangkap dari pertanyaan ibu saya.

Dan Bung Karno telah menjawabnya, SEJARAH !.

Di dalam sejarah terpapar dengan jelas pada masa siapa dan jaman apa Islam menjadi jaya dan berkembang dengan pesat, dan pada jaman apa Islam menjadi redup dan hanya menjadi alat politik kekuasaan.

Saya pernah menonton film documenter tentang Islam berdurasi sekitar 2 jam. Yang menerangkan tetang awal Islam dari lahirnya nabi Muhammad hingga meninggalnya sang Rasul. Kemudian penyebaran Islam, hingga lahirnya paham Wahabi menjelaskan dengan sangat gamblang sebab Islam menjadi redup. Yaitu pada masa ketika akal (ILM) di bekukan.

Pada masa itu, yang di bahas hanyalah tentang Jihad dalam pengertian sempit yaitu “perang” dan di gunakan untuk keperluan politik untuk meraih kekuasaan. Dan ini adalah tantangan buat kita semua, untuk kembali menemukan “Apinya Islam”, “Jiwanya Islam”, “Ruhnya Islam”. Dengan cara kembai menggunakan Akal (ILM).

Alasan kenapa orang Islam banyak yang menolak kemodernan barat, karena peristiwa ratusan tahun lalu, ketika perang salip terjadi. Peristiwa itu meninggal trauma di jiwa orang Islam, dan untuk membebaskannya orang Islam sendiri harus mempelajari sejarah, mencari sebab perang salib itu terjadi, dan mengakui kesalahan bahwa pada masa itu cita-cita Islam yang digagas oleh Sang Rasul sudah melenceng jauh dari cita-cita Sang Baginda Nabi.

Islam adalah Nikmat Bagi alam Semesta,

Islam adalah Anugrah.

Namun kemudian kenapa banyak orang yang menganggap Islam adalah sarangnya kekerasan?, hal itu karena kesalahan kita sendiri. Dan kesalahan itu ada di dalam garisnya sejarah, dan kita dapat menemukannya jika kita mau mempelajarinya.

Dan untuk sejarah negeri sendiri ada banyak hal yang perlu di pelajari tentang Islam, dan perlu juga diperbaiki. Berkisar dimasa akhir jaman Majahpahit, banyak sekali kejadian bersejarah tentang perkembangan Islam di Nusantara yang tidak kita ketahui dan tidak tercatat di dalam buku sejarah, kita harus mau dan berani menggalinya kembali agar kita dapat menyadari kesalahan yang terjadi. Dan dari sana kita akan dapat menarik garis ke sejarah Islam dunia.

=================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 6

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 22 Pebruari 1936

Assalamu’alaikum,

Belum juga saya bisa tulis artikel tentang nomor ektra taqlid sebagaimana saya janjikan, report “mereportir” sekolahnya anak saya, dan karena di Endeh ada datang seorang guru pesan golongan muda dari Banyuwangi, sehingga, walaupun mereka itu dua-duanya datang di Endeh untuk buat dagang, toch setiap malam mereka bertamu di rumah saya. Sampai jauh – jauh malam mereka berbincang-bincang satu sama lain dan kadang-kadang udara Endeh menjadi naik temperature hingga hamper 100 derajat! Saya tertawa saja, senang dapat melihat orang dari “dunia ramai” hanya menjaga saja jangan sampai udara itu terbakar sama sekali. Dan selamanya saya diminta menjadi hakim. Tak usah saya katakan Tuan, bahwa kehakiman saya itu, sering membikin tercengangnya guru pesantren, padahal seadil-adilnya menurut hukum!.

Karena rupanya berhadapan dengan orang Interniran politik, maka kawan muda ini bertanya “ bagaimana siasahnya, supaya jaman kemegahan Islam yang dulu-dulu itu bisa kembali ?”,
Saya punya jawab singkat : “Islam harus berani mengejar zaman” Bukan seratus tahun tapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat “mengejar” seribu tahun itu niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bahkan kembali kepada Islam – glory yang dulu bukan kembai kepada “zaman Khalifah”, tetapi lari kemuka, lari mengejar zaman, itu salah satu jalan buat menjadi gilang-gemilang kembali. Kenapa toch kita selamanya dapat ajaran, bahwa kita harus mengkopi “zaman khalifah” yang dulu-dulu? Sekarang tahun 1936, dan bukan tahun 700 atau 800 atau 900? Masyarakat bukan satu gerobak yang boleh kita “kembalikan” semau-mau kita? Masyarakat minta maju, maju ke depan, maju ke muka, maju ke tingkat yang “kemudian”, dan tak mau di suruh “kembali”.
Kenapa kita musti kembali kezaman “kebesaran Islam” yang dulu-dulu? Hukum syariat? Lupakah kita, bahwa hukum syariat itu bukan hanya haram, makruh, sunnah, dan fardu saja? Lupakah kita bahwa masih ada barang “mubah” atau “djaiz”? alangkah baiknya kalau umat Islam lebih ingat pula kepada yang mubah atau djaiz ini! Alangkah baiknya , kalau ia ingat, bahwa di dalam urusan dunia, di dalam urusan states manship, “boleh berqias, boleh berbid’ah, boleh membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru, boleh beradio, boleh mengambil cara-cara baru, boleh beradio, boleh berkapal-udara, boleh berlistrik, boleh bermodern, boleh berhyper-hyper modern”, asal tidak nyata dihukum haram atau makruh oleh Allah dan Rasul! Adalah suatu perjuangan yang paling berfaedah bagi umat Islam. Yakni perjuangan menentang kekolotan. Kalau Islam sudah bisa berjuang melawan kekolotan itu, barulah ia bisa lari secepat kilat mengejar zaman yang seribu tahun jaraknya kemuka itu. Perjuangan menghantam orthodoxie kebelakang, mengejar zaman kemuka, perjuangan inilah yang Kemal Ataturk masudkan, tatkala ia berkata, bawah “Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam mesjid memutar-mutar tasbih, tetapi Islam ialah perjuangan”. Islam is progress: Islam itu kemajuan!.

Tindakan-tindakan ulilamri-ulilamri zaman Islam – glory itu tidaklah, dan tidak boleh menjadi hukum bagi umat Islam yang tak boleh diubah atau ditambah lagi, tetapi hanyalah boleh kita pandang sebagai tingkat-tingkat perjalanannya sejarah, merely as historic degrees.

Bilakah kita punya penganjur-penganjur Islam mengerti falsafahnya historic degrees ini, membangun kecintaan membunuh “semangat – kurma” dan “semangat sorban” yang mau mengikat Islam kezaman kuno ratusan tahun yang lalu. Kecintaan berjuang mengejar zaman, kecintaan berqias dan ber bid’ah di lapangan dunia sampai ke puncak-puncaknya kemoderenan, kecintaaan berjuang melawan segala sesuatu yang mau menekan umat Islam kedalam kenistaan dan kehinaan ?.

Kabar Endeh sehat wal afiat. Bagaimana di sini?

Wassalam,

SUKARNO

=================================================

Membunuh kekolotan, melepaskan diri dari kekolotan, berjuang lepas dari kekolotan adalah sesuatu yang berat, perlu usaha extra, perlu banyak belajar, dan yang terpenting adalah mau berkorban, perlu adanya pengorbanan. Karena berat dan sulit itu, maka kemudian kita mencari cara Instan, mencari cara mudahnya saja, yaitu dengan menerapkan hukum syariat, seolah-olah jika hukum syariat di terapkan maka berkah Allah akan mengucur di bumi bumi Negara yang menerapkan, benarkah ?.

Sejenak kita mundur pada masa di mana sang Rasul hidup, yang terjadi pada waktu itu sang Rasul tidak diam dan duduk di dalam mesjid sambil memutar-mutar tasbih, tidak, sang Rasul tetap berjuang mencerdaskan masyrakat Mekah pada waktu itu. Sang rasul datang membawa pembaharuan kesadaran, dan pembaruan angin segar kesadaran akan selalu mendapat tentangan dari status quo yang akan merasa di rugikan jika banyak masyarakat yang tercerdaskan. Oleh karenanya kemudian status quo itu menyerang sang Rasul, dan sang Rasulpun terpaksa hijrah ke Madinah. Di Madinah inilah sang rasul mulai membangun masyrakat dengan menerapkan peraturan hukum, karena pada waktu itu di Madinah memang belum ada peraturan hukum yang layak, dan peraturan-peratun yang di buat oleh sang Rasul pada waktu itu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Madinah pada waktu itu, termasuk juga keluarnya peraturan tentang perang jihat karena pada waktu itu Medinah sedang di serang oleh orang-orang Mekah yang ingin menghancurkan sang Rasul karena merasa terancam oleh keharuman nama sang Rasul. Dari situ dapat kita simpulkan meski berada di dalam lindungan dan rahmat Allah, sang Rasul tetap harus berjuang, tetap harus belajar.

Apa yang terjadi jika kita mengetahui cara membeli tiket perjalanan wisata langsung pada sumbernya?, tentunya kita tidak memerlukan calo, namun kemudian kenapa calo tetap dapat hidup dan meraih keuntungan, jawabanya karena kita malas, kita ingin solusi instan. Dan inilah yang terjadi saat ini, dimana kita ingin menerapakan hukum syariat dengan harapan akan memperoleh kejayaan?. Dengarkanlah bung Karno agar kita dapat kembali pada sebuah kejayaan adalah dengan berjuang menentang kekolotan, berjuang untuk menjadi sadar, Bung Karno sudah memulai dari dirinya sendiri, saatnya kita meneruskannya dengan menyadarkan diri sendiri. Kesadaran itu akan menyebar dan perubahan akan terjadi.

=================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 7

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 22 April 1936

Assalamu’alaikum,

Tuan, post paket yang pertama sudah saya terima, post paket yang kedua sudah datang pula dikantor pos, tetapi belum saya ambil, karena masih ada satu dua kawan yang belum setor uang kepada saya padahal saya sendiri dalam keadaan “kering”, sebagai biasa, sehingga belum bisa menalanginya. Tapi dalam tempo tiga empat hari lagi , niscayalah kawan-kawan semua sudah setor penuh. Di dalam paket yang pertama itu, ada “ektra” lagi dari Tuan, yaitu biji jambu mede. Banyak terimakasih. Kami seisi rumah, itu hari pesta lagi biji jambu mede, seperti dulu. Juga saya mengucapkan banyak terimakasih atas Tuan punya hadiah buku serta pinjaman buku.

Kabar tentang berdirinya pesantren , sangat menggembirakan hati saya. Kalau boleh saya memajukan sedikit usul : hendaknya ditambah banyaknya “pengetahuan barat” yang hendak dikasihkan kepada murid-murid pesantren itu. Umumnya sangat saya sesalkan, bahwa kita punya Islam scholars masih sangat kurang sekali pengetahuan modern science. Walau yang sudah bertitel “mujtahid” dan ulama sekalipun banyak sekali yang masih mengecewakan, pengetahuannya banyak sekali yang kuarang berkualitas. Dan jangan tanya lagi bagaimana kita punya kiai-kiai muda! Saya tahu, Tuan punya pesantren bukan universitas, tapi alangkah baiknya kalau western science di situ di tambahkan banyak. Demi Allah “Islam Science” bukan hanya pengetahuan Al- Quran dan hadis saja; “Islam Science” adalah pengetahuan Alquran dan hadis plus pengetahuan umum. Walau tafsir-tafsir Al quran masyur pun dari jaman dulu orang sudah kasih title Tafsir yang “keramat” seperti misalnya Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Baidlawi, Tafsir Al-Mazhari dan lain-lain. Masih bercacat sekali, cacat-cacat yang saya maksudkan ialah misalnya bagaimanakah orang bisa mengerti betul-betul firman Tuhan, bahwa segala barang sesuatu itu dibikin olehnya “berjodoh-jodohan”, kalau tidak mengetahui biologi, tak mengetahui electron, tak mengetahui posotif dan negative, tak mengetahui aksi dan reaksi? Bagaimanakah orang bisa mengerti firmannya, bahwa “kamu melihat dan menyangka gunung-gunung itu barang keras, padahal semua itu berjalan selaku awan”, dan bahwa “sesungguhnya langit-langit itu asal mulannya serupa zat yang bersatu, lalu kami pecah-pecah dan kami jadikan segala barang yang hidup daripada air”, kalau tak mengetahui sedikit astronomi? Dan bagaimanakah mengerti ayat-ayat yang meriwayatkan Iskandar Zulkarnain, kalau tidak mengetahui sedikit histori dan arkhaeologi ?. Lihatlah itu blunder-blunder Islam sebagai “Sultan Iskandar” atau “Raja Firaun yang satu” atau perang badar yang membawa kematian ribuan manusia hingga orang berenang di lautan darah”! semua itu karena kurang penyelidikan histori, kurang scientific felling.

Alangkah baiknya Tuan punya mubaligh-mubaligh nanti bermutu tinggi, seperti Tuan M Natsir, misalnya! Saya punya keyakinan yang sedalam-dalamnya ialah, bawah Islam di sini, dan di seluruh dunia masih mempunyai sikap hidup secara kuno saja, menolak tiap-tiap “kebaratan” dan kemoderenan” . Al-Quran dan Hadis adalah kita punya wet yang tertinggi, tetapi Al-quran dan hadis itu, barulah bisa membawa kemajuan, suatu api yang menyala, kalau kita baca Al-Quran dan Hadislah yang mewajibkan kita menjadi cakrawala di lapangan segala science dan progress, di lapangan segala pengetahuan dan kemajuan. Kekolotan, kekunoan, kebodohan dan kemesuman itu menjadi sebab utama Headjaz dulu memaksa Ibnu Saud merombak kembali tiang radio Medinah. Kekunoan, kebodohan dan kemesuman itulah pula yang menjadi sebab banyak orang tak mengerti sahnya beberapa aturan-aturan baru yang di jadikan oleh Kemal Ataturk atau Riza Khan Pahlawi atau Jozep Stalin! Cara kuno dan mesum itulah, juga di atas lapangan ilmu tafsir, yang menjadi sebabnya seluruh dunia barat memandang Islam itu sebagai satu agama yang anti kemapanan dan yang sesasat. Tanyalah kepada itu ribuan orang Eropa yang masuk Islam di dalam abad kedua puluh ini; dengan cara apa dan dari siapa mereka mendapat pengetahuan baik dan bagusnya Islam, dan mereka akan menjawab; bukan dari guru-guru yang habnya menyuruh muridnya “beriman” dan “percaya” saja, bukan dari mubaligh-mubaligh yang tarik muka angker dan hanya tahu putaran tasbih saham tetapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal, karena berpengetahuan umum. Mereka masuk Islam, karena mubaligh-mubaligh yang menghela mereka itu ialah mubaligh-mubaligh yang modern dan scientific, dan bukan mubaligh “ala Hadramaut” atau “ala kiai bersorban”. Percayalah bahwa, bila Islam di propragandakan dengan cara yang masuk akal dan up to date, seluruh dunia akan sadar kepada kebenaran Islam itu. Saya sendiri, seorang terpelajar, barulah lebih banyak mendapat penghargaan kepada Islam, sesudah saya mendapat membaca buku-buku Islam yang modern dan scientitif. Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagaian besar ialah oleh karena Islam tak mau membarengi zaman, dan karena salahnya orang-orang yang mempropagandakan Islam, mereka kolot, mereka orthodox, mereka anti pengetahuan dan mereka memang tidak berpengetahuan, tahayul, jummud, menyuruh orang bertaqlid begitu saja, menyuruh orang “percaya begitu saja, mesum mbahnya mesum!.

Kita ini kaum yang anti taqlidisme? Bagi saya anti taqlidisme itu berarti bukan saja “kembali” kepada Al-quran dan Hadis, tetapi “Kembali kepada Al-quran dan hadis dengan menggunakan kendaraan pengetahuan umum”.

Tuan Hassan, maafkan saya bila saya punya obrolan ini. Benar satu obrolan, tapi satu obrolan yang keluar dari sedalam-dalamnya saya punya qalbu. Moga-moga Tuan suka perhatikannya berhubungan dengan Tuan punya pesantren. Hiduplah Tuan punya pesantren itu !.

Wasalam,

SUKARNO

=================================================

Sekali lagi saya harus menyatakan kekaguman saya terhada bung Karno adalah pada semanagat beliau untuk belajar, dalam kondisi yang “kering” beliau masih berusaha untuk mendapatkan buku-buku dan belajar. Suatu prilaku yang harus kita contoh, apa lagi jika mengklaim sebagai ‘fansnya bung Karno’. Saya punya seorang teman, aktifis, dan memiliki cita-cita tinggi dalam membuat pembaharuan di Indonesia, juga mengaku sebagai fansnya Bung Karno. Pada suatu waktu kami sempat berdiskusi mengenai politik dan budaya serta kejadian yang ada di Indonesia, tiba pada perbincangan tentang sejarah, karena kita tidak bisa melepaskan kejadian hari ini dengan kejadian masa lalu. Dengan agak bingung dia mendengarkan pemaparan saya mengenai sejarah masa lalu Indonesia terutama pada jaman Majapahit dan kesultanan Islam. Terjadi perdebatan kusir, dan kemudian saya berikan dia beberapa buku yang memberikan informasi tentang apa yang saya ungkapkan perihal sejarah tersebut, mau tahu apa responnya, “Wah gua rada males kalau baca sejarah”.

Walah, mau ngomong apa?. Saya sendiri harus bersusah payah membaca buku sejarah, karena memang mempelajari sejarah bukanlah hal yang mengenakan, gampang ngantuk, namun saya tetap membaca dan mempelajarinya.

Kemudian di acara gossip di teve ada seorang artis yang baru saja menikah ditanyai mengenai pernikahannya, jawabnya “Pokoknya kami akan menjalani seperti apa yang sudah diajarkan di dalam Al quran dan Hadis”, sang repoter bingung dan mulai mencari tahu, “Apa itu?”

Dan si artis juga kebingungan, mungkin benaknya juga bertanya “apa ya?”, namun gensi ada di depan kamera teve, dia kembali menegaskan dengan bahasa yang lebih keras, “Ya pokoknya harus sesuai dengan anjuran Al-quran dan Sunah Rasul”.

Wah, kira-kira apa ya ?.

Dan seperti itulah kondisi kita saat ini, kita menelam mentah-menatah segala sesuatu yang diberikan oleh pemuka agama, kita tidak lagi menggunakan akal dan pengetahuan untuk mengkaji. Bahkan apa yang di bicarakan oleh para ulama kita sangat dangkal hanya berkisaran dari neraka, surga, dan akherat. Itu saja, dengan bahasa yang berbeda dan dalil yang berbeda, namun intinya hanya 3 hal itu saja. Tidakah ada hal-hal lain yang lebih berarti untuk di aplikasikan ke dalam kehidupan, semisal “Kebersihan adalah sebagian dari pada Iman”. Lantas kemudian di implementasikan dengan cara menjaga kebersihan alam sekitar, lingkungan sekitar. Cara membuang sampah yang benar, menghindari penggunaan kantong plastik yang berlebihan dan banyak lagi yang dapat diambil dari pelajaran ilmu pengetahuan tentang alam, bukankah sekarang dunia senang asyik menggosipkan tentang global warming, go green. Andai ulama dan pemuka kita sedikit lebih cerdas, maka issu itu bisa diangkat untuk mencerdasakan masyrakat, en walah Islam akan dipandang di dunia sebagai salah satu agama yang turut menyelamatkan alam ini.

=================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 8

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 12 Juli 1936

Assalamu’alaikum,

Saudara! Saudara punya kartu pos sudah saya terima dengan girang. Syukur kepada Allah SWT punya usul Tuan terima!.

Buat menganjal saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya sudah sesak sekali buat mebelajari segala saya punya keperluan, maka sekarang saya lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggris yang mentarikhkan Ibnu Saud. Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati. Tebalnya buku Inggris itu, format Tuan punya tulisan “Al-Lisaan”, adalah 300 muka, terjemahan Indonesia akan menjadi 400 muka. Saya saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya? Tolonglah melonggarkan rumah tangga saya yang disempitkan korting itu.

Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain c.s akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menjalin ini buku, adalah suatu confenssion bagi saya bahwa, walaupun tidak semua mufakat tentang system Saudisme yang juga masih banyak feudal itu, toch menghormati dan kagum kepada pribadinya itu yang “toring above all moslems of his time; an Immense man, tremendous, vital, dominant. A gian thrown up of the chaos and agrory of the desert, to rule, following the example of this great teacher , Mohammad”. Selagi menggoyangkan saya punya pena buat menterjemahkan biografi ini, jiwa saya ikut bergetar karena kagum kepada pribadi orang yang digambarkan. What a man! Mudah-mudahan saya mendapat taufik menjelaskan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku, dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspirasi daripadanya. Sebab, sesungguhnya buku ini penuh dengan inspirasi. Inspirasi bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam hati. Inspirasi bagi kaum muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunah Nabi”, yang mengira, bahwa Sunah Nabi SAW itu hanya makan kurma di bulan puasa dan cela mata dan sorban saja !.

Saudara, pelase tolonglah. Terimakasih lahir-batin, dunia – akherat.

Wassalam,

SOEKARNO

=====================================================

Saat ini banyak yang tidak dapat memisahkan antaran Islam dengan Faham Wahabi, Nama “Wahabisme” dan “Wahabi” berasal dari Muhammad ibn Abd al Wahhab (1703-1792). Nama ini diberikan orang-orang yang berada di luar gerakan tersebut, dan kerap kali dengan makna yang terkesan buruk, dangkal dan penuh dengan kekerasan.

Wahabisme, menurut Ulil, mempunyai akar dari seorang pemikir besar, Ibn Taimiyah beberapa abad sebelumnya. Dalam kontekstualisasinya, gerakan wahabi bersinggungan keras dengan kelompok tasawuf dan Islam Syi’ah. Bagi gerakan Wahabi, kelompok-kelompok tersebut tidak mengikuti ajaran seperti yang dicontohkan Rasul. Dalam tataran yang lebih luas kelompok ini berusaha untuk menyingkirkan segala macam bid’ah, khurafat, dan berbagai tindakan kesyirikan lainnya, dan secara tidak langsung mempunyai jasa besar melahirkan terorisme. (http://islamlib.com/id/artikel/arabisme-dan-gerakan-wahabi/)

Faham Wahabisme inilah yang mengkerdilkan Islam dimana Islam hanya di indetikan dengan wujud jasad saja, yaitu jubah, kopyah, sorban, jengot, celak mata, tasbih. Dan cenderung menafsirkan Islam dari satu sisi dangkal yaitu Jihad saja, Jihad yang diartikan sebagai Perang. Karena paham ini muncul ketika bangsa Arab ingin melepaskan diri dari cengkraman kebudayaan Turki. Oleh karennya perlu dipahami bawah Wahabisme bukan gerakan Islam, melainkan gerakan budaya yang menggunakan Islam sebagai jubahnya, mengcopy 100% apa-apa yang ada di jaman rasul di dalam proses pencarian jati diri dan pembentukan bangsa Arab (Saudi) , namun kemudian seiring waktu faham ini berubah menjadi doktrin, menjadi ajaran yang dirafsirkan untuk keperluan militer (perang), sehingga faham ini berisikan kekerasan dan kekunoan yang di ekpor ke seluruh dunia, tak aneh kemudian jika dunia memandang Islam sebagai wujud agama yang penuh kekerasan, karena yang disebar luaskan bukan ajaran islam, melainkan faham Wahabisme.

Sahabat saya Alphada Satriansa banyak mengulas tentang Wahabisme main-mainlah ke profile FBnya, namun sebelum mempelajari sesuatu terlebih dahulu ada yang harus dibenahi yaitu kekolotan, dengan cara membuka diri seluas-luasnya terhadap semua kemungkinan, tanpa itu kita tidak akan pernah bisa belajar. Tanpa membuka diri Inspirasi tidak akan mengisi cawan jika kita, padahal yang kita butuhkan hanyalah Inspirasi.

“Aku membuka diri ku terhadap segala macam kemungkinan”.

=====================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 9

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh , 18 Agustus 1936

Assalamu’alaikum,

Surat Tuan sudah saya terima. Terimakasih atas Tuan punya kecapaiannya telah mencarikan penerbit buku saya kesana-kesini. Moga-moga lekas dapat, manuscript yang begitu tebal, tinggal manuscript saja.

Tentang Tuan punya usul menulis buku yang lebih tipis, brosur saya akur. Memang brosur itu amat perlu tetapi saya ingin menyudahi satu buku lagi yang juga kurang lebih 400 muka tebalnya, yang rancangannya sekarang sudah selesai pula di dalam saya punya otak. Rakyat Indonesia, terutama kaum intellegensia, sudah mulai banyak yang senang membaca buku-buku bahasa sendiri yang “matang”, yang “thorough”. Ini alamat baik; sebab perpustakaan Indonesia buat 95% hanya buku-buku tipis saja, hanya brosur-brosur saja, tak sedikit gembira saya, waktu saya menerima buku bahasa Indonesia “Islam di tanah Cina” . Buku ini adalah satu contoh buku yang “thorough”, alangkah baiknya, kalau lebih banyak buku-buku itu di perpustakaan kita! Barang kali kita punya intellegensia tidak senantiasa terpaksa mencari makanan ruh dari buku-buku asing saja. Ini tidak berarti , bahwa saya tak mufakat orang baca buku asing. Tidak! Semua buku ada faedahnya, makin banyak baca buku, makin baik. Walau buku bahasa hottento-pun baik kita baca! Tetapi janganlah perpustakaan kita sendiri berisi nihil, sebagai keadaan sekarang ini. Tuan kata, buku tipis lebih murah harganya, tapi bagi kaum intellegensia juga mengeluarkan banyak uang bagi buku-buku asing? Toch kita punya kaum yang mampu juga banyak mengeluarkan uang buat pakaian, buat bioskop , atau buat kesenangan lain-lain? Sebenarnya harga satu buku tidak menjadi ukuran laku tidaknya buku itu nanti; yang menjadi ukuran, adalah kandungan buku itu; isi buku itu, digemari orang atau tidak. Bagi kaum marhaen, ia memang, zaman sekarang ini zaman berat. Tapi tidak keberatan buku-buku tebal itu dijadikan “penerbitan untuk rakyat”, atau di pecah-pecah menjadi empat jilid, sehingga meringankan bagi marhaen. (sebenarnya kurang baik memecah buku menjadi jilid-jilid yang kecil). Tetapi dalam pada saya menganjurkan penerbitan lebih banyak buku tebal dan thorough itu, saya akui faedah brosur. Sebagai alat propaganda , brosur adalah sangat perlu. Insya Allah saya akan tulis brosur tentang faham jaiz di dalam hal keduniaan. Di dalam salah satu surat saya yang terdahulu, saya sudah sedikit singgung perihal ini. Kita punya perikehidupan Islam, kita punya ingatan-ingatan Islam, kita punya ideology Islam, sangatlah terkungkung oleh keinginan mengkopy 100% segala keadaan dan cara-cara dari jaman Rasul SAW, dan khalifah yang besar. Kita tidak ingat, bahwa masyarakat itu adalah barang yang tidak diam, tidak tetap, tidak “mati” tetapi “hidup” mengalir berubah senantiasa, mau, berevolusi, dinamis. Kita tidak ingat bahwa Nabi Saw sendiri telah menjaizkan urusan dunia menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan urusan dunia yang baik yang tidak haram atau makruh. Kita royal sekali dengan perkataan “Kafir, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir” pengetahuan barat kafir, radio dan kedokteran kafir; pantaloon dan sadal dan topi kafir, sendok dan garpu dan kursi kafir, tulisan latin kafir; ia bergaulan dengan bangsa bukan Islampun Kafir! Padahal apa-apa yang kita namakan Islam? Bukan ruh Islam yang berkobar-kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan amal Islam yang menagumkan, tetapi…. Dupa dan korma dan jubah dan celak mata! Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa yang matanya di celak jubahnya panjang dan memengang tasbih yang selalu berputar, dia , dialah yang kita namakan Islam. Astagfirullah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Yang mengkafirkan radio dan listrik, mengkafirkan kemoderenan dan ke up to date-tan? Yang mau tinggal mesum saja, tinggal kuno saja, yang terbelakang saja, tinggal “naik unta” dan makan “zonder sendok” saja “seperti di zaman nabi dan khalifahnya? yang menjadi marah dan murka kalau mendengar tentang diadakannya aturan-aturan baru di Turki atau Iran atau Mesir atau di lain-lain negeri Islam ditanah Barat ?.

Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam salah satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan karena fardu, kemajuan karena sunah, tetapi juga kemajuan karena di luaskan dilapangkan oleh aturan. Djaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batasan-batasannya zaman. Islam is progress. Progress berarti barang baru, barang baru yang lebih sempurna yang lebih tinggi tingkatnya dari pada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, creation baru, bukan mengulangi barang yang dulu, bukan mencopy barang yang lama , tidak boleh mau mengulangi zamannya “khalifah-khalifah yang besar “ itu Tidaklah di dalam langkahnya zaman yang lebih dari seribu tahun itu prikemanusiaan mendapat sistem-sistem baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatannya daripada dahulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakan sistem-sistem baru yang cocok dengan keperluan zaman itu sendiri? Apinya zaman khalifah-khalifa yang besar itu ?Ach, lupakah kita, bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang “menganggitkan”, bukan mereka yang “mengarangkan”? bahwa mereka “mencatat” saja itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari kalam Allah dan Sunnah rasul ?.

Tetapi apa yang kita “catat” dari Kalam Allah dan Sunnah rasul itu ? bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flamenya, tetapi abunya, debunya, absesnya. Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyan dan tunggangan unta, abunya yang berisfat Islam mulut dan Islam ibadat zonder taqwa, abunya yang Cuma tahu baca Fatihah dan tahlil saja, tetapi bukan apinya, yang menyala-nyala dari ujung zaman satu keujungan zaman yang lain. Tarikh Islam, kita baca tetapi kitab-kitab tarikh Islam itu tidak mampu menunjukan dinamika law of progress yang menjadi nyamanya dan tenaga-tenaganya zaman-zaman yang digambarkan, tidak bisa mengasih falsafah sejarah, dan hanyalah habis-habisan kata memuluk-mulukan dan mengkeramat-keramatkan pahlawan-pahlawannya saja. Kitab-kitab tarikh ada begitu, betapakah umat Islam umumnya, betapakah si Dulah dan Si Amat, betapakah si Minah dan Si Maryam ? Betapakah si Dulah dan si Amat dan Minah dan Maryam itu, kalau mereka malahan lagi hari-hari dan tahun-tahun di cekoki faham-faham kuno dan kolot, tahayul dan mesum, anti kemajuan dan anti kemoderenan, hadramautisme yang jumud maha jumud ?.

Sesungguhnya Tuan Hassan, sudah lama waktunya kita wajib membrantas faham-faham yang mengkafirkan segala kemajuan dan kecerdasan itu, membelenggu segala nafsu kemajuan dengan membelenggunya : “ini haram, itu makruh”, padahal djaiz atau mubah semata-mata! Insya Allah, dalam dua-tiga bulan brosur itu selesai!.

Wassalam,

SUKARNO.

=====================================================

Satu hal yang sama dari jaman bung karno hingga saat ini bahwa kita lebih suka menghabiskan uang untuk pergi ke café, nonton bioskop, dugem dibandingkan membeli buku. Berapa persen uang dari penghasilan kita yang kita anggarkan buat beli buku ?.

Buat bung Karno setiap zaman memiliki keunikannya sendiri, karena zaman adalah sesuatu yang dinamis, suatu yang hidup. Oleh karenya kita tidak akan pernah bisa mengcopy apa yang terjadi di suatu jaman, dan upaya-upaya kita mengkopy apa yang terjadi di jaman rasul dan khalifahnya akan sia-sia karena bertentangan dengan tuntunan jaman itu sendiri, dengan kehendak jaman itu sendiri.

=====================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 10

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh , 17 Oktober 1936

Assalamu’alaikum,

Dua surat terakhir, sudah saya terima. Baru ini hari ada kapal ke Jawa buat membalas kedua surat itu. Itulah sebabnya balasan ini ada terlambat.

Tuan tanya , apakah Tuan boleh mencetak saya punya surat-surat kepada Tuan itu? Sudah tentu boleh. Tuan ! Saya tidak ada keberatan apa-apa atas percetakan itu. Dan malahan barangkali ada baiknya orang mengetahui surat-surat itu. Sebab, di dalam surat-surat itu ada adalah saya teteskan bagian dari saya punya jiwa, dari jiwa yang Islamnya hanya raba-raba saja menjadi jiwa yang Islamnya yakin, dari jiwa yang mengetahui menjadi jiwa yang Islamnya yakin, dari jiwa yang mengetahui adanya Tuhan, tetapi belum mengenal Tuhan, menjadi jiwa yang sehari-hari berhadapan dengan Dia, dari jiwa yang banyak falsafah ketuhan tetapi belum mengamalkan ketuhanannya itu menjadi jiwa sehari-hari menyembah kepadaNya. Saya wajib berterimakasih kepada Allah Subhanahu wata’ala, yang mengadakan perbaikan saya punya jiwa yang demikian itu, dan kepada semua orang, antaranya tidak sedikit kepada Tuan, yang membantu kepada perbaikan itu. Sebagai tanda terimakasih kepada Allah dan manusia itulah saya meluluskan permintaan Tuan akan mengumkan surat-surat saya itu.

Bebarapa waktu lalu ada orang menulis satu entrefilet di dalam surat kabar “pemandangan”, bahwa saya sekarang gemar Islam banyak orang yang heran membaca khabar itu, begitulah katanya kata salah seorang teman dari jawa yang menulis sepucuk surat selamat kepada saya berhubungan dengan entrefilet itu. En toch, bagi siapa yang mengenal saya betul-betul dan tidak hanya oppervalkking saja, bagi siapa saya yang mengetahui seluk beluknya saya punya jiwa sekarang dari umur delapan belas tahun, bagi siapa yang pernah menyelami samudera saya punya nyawa sampai kebagian-bagian paling dalam, bagi dia bukanlah barang yang “mengherankan” lagi bahwa saya “sekarang gemar Islam”. Bukan satu “alamat” bahwasannya bahwa dulu saya anggota sarekat Islam, dan kemudian juga anggota parta sarekat Islam dan kemudan pula meninggalkan P.S.I itu hanya karena tak mufakat 100% dengan partai itu, dan bukan karena benci kepada Islam? Bukan suatu “alamat” bahwa saya di dalam kurungan penjara suka miskin yang pertama kali ada membikin banyak studi Islam itu, dan “Java Bode” membikin gambar sindiran lucu yang sampai sekarang saya simpan di saya punya album? Bukankah suatu “alamat”, akhirnya bahwa kebanyakan saya punya ucap-ucapan dulu itu menunjukan satu “dasar mistik”, satu “dasar ke Tuhan-an” yang betul nyata menunjuk kejurusan itu ? Dan bilamana saya dulu kadang-kadang mengeluarkan ucapan-ucapan yang membangun kesan anti Islam diatas sesuatu masalah Islam, maka itu bukan karena menentang Islam karena anti-Islam “an sich” tetapi hanyalah tidak senang melihat keadaan-keadaan di kalangan umat Islam yang membangunkan amarah dan kejengkelan saya.

Dan sekarangpun, Tuan Hassan, sekarangpun, yang saya, Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah dan pertolongan Tuan dan pertolongan orang-orang lain, sudah lebih mengenal bulat dan lebih yakin ke-Islam-an saya itu, sekarang hati saya malahan menjadi lebih luka dan gegetun kalau saya melihat keadaan di kalangan umat Islam yang seakan menentang Allah dan menentang Rasul itu. Lebih luka dan lebih gegetun kalau saya melihat kejumudah dan kekunoan guru-guru dan kiai-kiai Islam, lebih luka dan gegetun kalau melihat mereka mengokoh-ngokohkan taqlidisme, lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat dilancang-lancangkannya dan dimain-mainkannya poligami, lebih luka dan gegtun kalau melihat degradation Islam menjadi “agama celak” dan “agama sorban”, lebih luka dan gegetun melihat kenistaan umum dan kehinaan umum yang seakan akan menjadi “patent” dunia Islam itu. Ach, Tuan Hassan, sekarang barangkali kaum kolot sudah sedia dengan putusan kehakimannya yang mengatakan saya “anti Islam”, “mau mengadakan agama baru” , “murtad dari Ahlussunah wal jama’ah, “charidiji” dan “qadiani” , dan macam-macam sebutan yang kocak-kocak dan segar-segar………. (bersambung)

=====================================================

Buat bung Karno agama harus diamalkan ke dalam prilaku, dan hal itu baru bisa jika sipelaku sudah memiliki keyakinan yang berasalkan dari pengalaman pribadinya. Pengalaman pribadinya itu melahirkan ilmu dan ilmu itu terimplementasikan ke dalam prilaku sehari-hari. Bagi bung Karno tidak cukup mengetahui tentang Tuhan, melainkan harus merasakan kehadiran Tuhan agar dapat senantiasa sujud dan mengabdi kepadaNya. Tuhan harus merasuk ke dalam prilaku sehari-hari.

Dan apa yang diperbuat oleh bung Karno semata-mata untuk membangunkan kita semua, terutama umat Islam agar keluar dari kekolotan. Karena kekolotan itu membuat kita seolah-olah beragama Islam namun prilaku kita keluar dari keislaman. Semisal gemar mempertontonkan kekerasan, gemar berpoligami, anti ilmu pengetahuan, anti keberagaman, anti kemanusiaan dan lain sebagainya.

Dan para pembaharu seperti bung Karno selalu akan di katakan murtad, kafir, sesat dan sebutan-sebutan caci maki lainnya, namun semua itu tidak menyurutkan langkah bung Karno karena bung Karno meyakini keimanannya, meyakini ke-Tuhan-annya.

=====================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 11

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Dan sekarangpun, Tuan Hassan, sekarangpun, yang saya, Alhamdulilah, berkat pertolongan Allah dan pertolongan Tuan dan pertolongan orang-orang lain, sudah lebih mengenal bulat dan lebih yakin ke-Islam-an saya itu, sekarang hati saya malahan menjadi lebih luka dan gegetun kalau saya melihat keadaan di kalangan umat Islam yang seakan menentang Allah dan menentang Rasul itu. Lebih luka dan lebih gegetun kalau saya melihat kejumudah dan kekunoan guru-guru dan kiai-kiai Islam, lebih luka dan gegetun kalau melihat mereka mengokoh-ngokohkan taqlidisme, lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat dilancang-lancangkannya dan dimain-mainkannya poligami, lebih luka dan gegtun kalau melihat degradation Islam menjadi “agama celak” dan “agama sorban”, lebih luka dan gegetun melihat kenistaan umum dan kehinaan umum yang seakan akan menjadi “patent” dunia Islam itu. Ach, Tuan Hassan, sekarang barangkali kaum kolot sudah sedia dengan putusan kehakimannya yang mengatakan saya “anti Islam”, “mau mengadakan agama baru” , “murtad dari Ahlussunah wal jama’ah, “charidiji” dan “qadiani” , dan macam-macam sebutan yang kocak-kocak dan segar-segar. Biar! Zaman nanti akan membuktikan, bahwa kaum muda tulus dan ikhlas mengabdi kepada kebenaran, tulus dan ikhlas mengabdi kepada Tuhan. Zaman nanti akan membawa persaksian, bahwa kita punya ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan bukan “membuat agama baru” , bukan buat “mengubah hukum-hukum Allah dan Rasul”. Justeru buat, mengembalikan agama yang asli dan mengindahkan hukum-hukumnya Allah dan Rasul. Belum pernah disejarah dunia ada tulisan, bahawa suatu reform movement tidak dapat perlawanan dari kaum yang jumud, belum pernah sejarah dunia itu menyaksikan bahwa suatu pergerakan yang mau membongkar adat-adat salah satu dan ideology-ideologi salah yang telah berwindu-windu dan berabad-abad bersulur dan berakar pada suatau rakayat, tidak membangun reaksi hebat dari pihak jumud yang membela adat-adat ideology itu. Silahkan kaum mudah berkerja terus. Tapi dalam pada kaum muda berkerja terus itu haruslah mereka menjaga, jangan sampai mereka mengadakan perpecahan dan permusuhan satu sama lain di kalangan umat Islam, jangan sampai mereka meanggar perintah Allah dan “berpegang kepada agama Allah dan jangan bercerai berai” dan jangan samapai mereka “menggenuki umat sendiri, lupa kepada umat yang besar”

Ini, inilah memang kesukarannya kerja yang harus diselesaikan oleh kaum mudah itu: memberantras adat-adat salah dan ideology-ideologi salah tapi tidak mebermusuhan dengan kaum yang karena “belum tahu”, membela kepada adat-adat salah dan ideologi-ideologi salah itu; menwarkan adat-adat benar dan ideology-idologi benar itu; mengoperasi tubuh Islam dari bisul-bisulnya menjadi potongan-potongan yang membinasakan keselamatan tubuh itu sama sekali.

Renaissance-paedagogie, mendidik supaya bangun kembali, itu, itulah yang harus dikerjakan oleh kaum muda, itulah yang harus mereka “System-kan” , dan bukan separatism dan perang saudara. Bahagialah kaum muda yang dikasih kesempatan mengerjakan renaissance-paedagogie itu, bahagialah kaum mudah yang di takdirkan menjadi pahlawam-pahlawan renaissance – paedagogie itu.

Sampaikanlah saya punya salam kepada mereaka semua, sampaikanlah saya punya doa kepada mereka semua. Kepada Tuan sendiri, salam dan pembaTuan doa itu saya bubuhi ucapapan terimakasih atas Tuan punya pertolongan-pertolongan pribadi kepada saya, lahir batin.

Wasallam,

SUKARNO

(Selesai)

=====================================================

Setiap pembaharu akan di tolak, ingat kasus Galileo , Galileo Galilei (lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 – meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642 pada umur 77 tahun) adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah.

Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi, dan hukum gerak pertama dan kedua (dinamika). Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernicus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.

Akibat pandangannya yang disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.

Zaman telah mencatat kebenaran tentang pemikirannya itu. Oleh karenanya buat siapapun yang sedang ingin keluar dari kekolotan akan mendapat tentang hebat, akan mendapat caci maki dan hujatan, namun berkacalah kepada bung Karno, berkacalah pada prilaku beliau dan tauladanilah, semangatlah dan tetaplah memberdaya diri.

Zaman akan mencatat siapapun yang sedang berupaya untuk meruntuhkan kekolotan, dan bersukurlah kepada Dia yang maha satu adaNya jikalau kebetulan kita mendapati peranan sebagai pendobrak kekolotan, terimalah peranan itu dengan suka cita karena itu adalah peranan agung. Tetaplah menggali dan menggali apa pun yang terjadi jangan pernah berhenti samapai nafas terakhir berhembus.

Surat menyurat ini selesai di sini, namun ke depannya masih ada guratan jiwa bung Karno yang dapat kita selami, dapat kita hayati. Yaitu berbentuk artikel-artikel yang dapat mengugah kesaran kita, dapat mengilhami inspirasi kita dalam mengisi hidup ini, dalam melakoni peranan di kehidupan ini. Saya akan mencoba mengharikan artikel-artikel buah karya bung Karno secara bersambung, dengan harapan jiwa bapak bangsa kita ini dapat merasuk dan memberikan ispirasi buat kita semua, seperti apa yang di katakana oleh Bung Karno bahwa yang kita butuhkan hanyalah inspirasi.

Tidak Percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad Adalah Nabi (Endeh, 25 Nopember 1936)
Tabir Adalah Lambang Perbudakan (Pani Islam , 1939)
Minta Hukum Yang Pasti Dalam Soal “Tabir ( Surat terbuka kepad K.H.M Mansur ketua H.B Muhammadiyah )
Memudahkan Pengertian Islam (Panji Islam , 1940)
Apa Sebab Turki Memisahkan Agama Dari Negara ?
Saya Kurang Dinamis (Panji Islam, 1940)
Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (Panji Islam, 1940)
Islam Sontoloyo (Pani Islam, 1940)
Bloedtrasfusie Dan sebagian Ulama (Panji Islam, 1941)

Source: http://www.kompasiana.com/surahman

Pendapat Ulama Tentang Tahlilan

Bismillah…
Assalaamu’alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokaatuh…

Yang berkembang dimasyarakat luas pada saat ini adalah AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH adalah mereka yang melakukan qunut pada waktu sholat subuh, orang yang suka melakukan TAHLILAN/ MA’TAM, orang yang suka melakukan maulidan (penbacaan barjanji dan lain sebagainya), jika itu yang menjadi patokan mereka berarti dapat ditarik kesimpulan bahwasanya orang-orang yang tidak melakukan Qunut pada waktu sholat Subuh, TAHLILAN/ MA’TAM, dan maulidan berarti mereka bukan termasuk AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH berarti Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) dan Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali) yang tidak melakukan Qunut pada waktu sholat subuh beratri beliau bukan termasuk ahlussunah waljama’ah dan lebih jauhnya Imam Madzhab yang 4 “Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi), Imam Malik bin Annas (Amam Annasa’i), Imam Syafi’I dan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali)”, para shabat, bahkan Rosul SAW yang tidak melakukan tahlilan dan tidak melakukan maulidan bukan termasuk AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH, ini adalah suatu anggapan yang SALAH BESAR dan ini bukan termasuk golongan AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH melainkan ALUSSALAH WAL GAGABAH.
(Pengajian Mansyura: Bpk. Muhammad Syihabuddin Muhsin rohimahulloh)

HISTORY TAHLILAN/ MA’TAM

Pada mulanya ditradisikan oleh Wali Songo (sembilan pejuang Islam di tanah Jawa). Seperti yang telah kita ketahui, di antara yang paling berjasa menyebarkan ajaran Islam di Indonesia adalah Wali Songo. Keberhasilan dakwah Wali Songo ini tidak lepas dari cara dakwahnya yang mengedepankan metode kultural atau budaya.

Wali Songo mengajarkan nilai-nilai Islam secara luwes dan tidak secara frontal menentang TRADISI HINDU yang telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan, hanya saja isinya diganti dengan nilai Islam.
Dalam tradisi lama, bila ada orang meninggal, maka sanak famili dan tetangga berkumpul di rumah duka. Mereka bukannya mendoakan mayit tetapi begadang dengan bermain judi atau mabuk-mabukan. Wali Songo tidak serta merta membubarkan tradisi tersebut, tetapi masyarakat dibiarkan tetap berkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan pada mayit. Jadi istilah tahlil seperti pengertian di atas tidak dikenal sebelum Wali Songo.

KESIMPULAN:

1. TAHLILAN/ MA’TAM tidak ada dasar syaria’ahnya (Al-Qur’an dan As-Sunnah)
2. TAHLILAN/ MA’TAM merupakan kebiasaan orang-orang Hindu

PANDANGAN AL-QUR’AN DAN AL-HADITS

1. Al-Muatha’
“Telah aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang bila mana kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an –red) dan Sunnahku (Al-Hadits Shahihah).” (Al-Muatha’, Al-Qadar, hal.560, no.3)
2. Tafsir Jalalain
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,”
“Maka seseorang tidak akan memperoleh pahala sedikit pun dari hasil usaha orang lain.” (Tafsir Jalalain, 2/197)
3. Hadits Shahih dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii
“Kami ( yakni para Shahabat semuanya ) memandang/menganggap ( yakni menurut madzhab kami para Shahabat ) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”

PANDANGAN ULAMA TERHADAP TAHLILAN/ MA’TAM

1. Imam Syafi’I
“Aku benci Al MA’TAM yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan .” (Al-Umm, Juz 1, hal 248)
2. Imam Nawawi
“Adapun bacaan Al-Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan menggantikan shalatnya mayit tersebut. Menrut Imam Syafi’I dan Jumhur Ulama mengatakan tidak dapt sampai kepada simayit yang dikirimkan dan keterangan seperti ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi didalam kitabnya Syarah Muslim.” (As Subuki, TAKMILATUL MAJMU, syarah MUHADZAB, Juz X, hal. 426)
3. Al-Haitami
“Mayit tidak boleh dibacakan apa pun, berdasarkan keterangan yang mutlak dari para Ulama Mutaqaddimin (terdahulu), bahwa bacaan (yang pahalanya dikirimkan kepada simayit) adalah tidak sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedangkan pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan ari amil (yang mengamalkan) pernuatan itu, berdasarkan firman Allah “Dan manusia tidak memperoleh, kecuali dari pahala hasil usahanya sendiri.” (Al-Haitami, Al-Fatwa Wa Al Kubra Al Fighiyah, Juz II, hal.9)
4. Imam Al Khazin
“Dan yang masyhur dalam madzhab Syafi’I, bahwa bacaan Al-Qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi.” (Al Khazin, Al-Jamal, Juz IV, hal.236)
5. Ibnu Katsir
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”(An-Najm :39), Imam Syafi’I r.a dan ulama-ulama yang mengikitinya mengambil kesimpulan, bahwa pahala bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada simayit adalah tidak dapat sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rosulullah SAW tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan). Dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun isyarat, dan tidak ada seorang sahabatpun yang tidak pernah mengamalkan hal tersebut, kalau toh amalan semacam itu baik , tentu mereka lebih dulu mengerjakannya, padahal amalan qurban (mendekatkan diri kepada Allah ) hanya terbatas yang ada nash-nashnya (dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosulullah SAW) dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat.” (Tafsir Ibnu Katsir IV:258)

Analisi Firman Allah:

“Dan bahwasanya seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu selain apa yang telah diusahakan”

1. Tafsir Ibnu Katsir IV: 258
(maksudnya) ialah bagaimana seseorang tidak akan dibebani dengan dosa (orang) lain, demikian ia tidak dapat memperoleh pahala selain dari apa yang telah iya upayakan untuk dirinya. Imam Syafi’I r.a dan ulama-ulama yang mengikitinya mengambil kesimpulan, bahwa pahala bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada simayit adalah tidak dapat sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rosulullah SAW tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan). Dan tidak pernah memnerikan bimbingan, baik dengan nash maupun isyarat, dan tidak ada seorang sahabatpun yang tidak pernah mengamalkan hal tersebut, kalau toh amalan semacam itu baik , tentu mereka lebih dulu mengerjakannya.
2. Tafsir Al-Maraghi XXVII:66)
Adapun madzhab Ahmad bin Hanbal dan segolongan para ulama (menyatakan) bahwa bacaan Al-Qur’an akan sampai (pahalanya) kepada yang telah mati, apa bila bacaan itu dilakukan dengan tidak mengambil upah. Adapun apabila mengambil bayaran atau upah sebagaimana dilakukan orang-orang dewasa ini, ialah dengan member bayaran/ upah kepada pembaca Al-Qur’an diatas kuburan dan yang lainnya, maka hal seperti itu tidak akan sampai kepada yang telah mati.
3. Sarah Shahih Muslim
Adapun Al-Qur’an pendapat yang masyhur dari madzhab Syafi’I tidak sampai pahalanya kepada yang telah mati, sementara sebagian pengikut Imam Syafi’I berpendapat bahwa pahala bacaan itu sampai kepada orang yang telah mati.
4. Adzkar An-Nawawi
Para ulama berselisih pendapat dalam hal sampai dan tidaknya pahala bacaan Al-Qur’an, maka pendapat yang masyhur dari madzhab Imam Syafi’I serta golongan para ulama bahwasanya pahala bacaan Al-Qur’an itu tidak akan sampai kepada orang yang telah mati.
(AL HIDAYAH, Bab Menghadiyahkan Pahala Bacaan Al-Qur’an Kepada Orang Yang Telah Mati hal.784, A.Zakariya)

Analisa Kitab

1. I’anatut Thalibin
“ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul dirumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID’AH Munkarat (bid’ah yang diingkari agama). Yang bagi memberantasnya akan diberi pahala.” (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145)
Dan apa yang dibiasakan orang tentang hidangan makanan oleh keluarga mayit untuk dihidangkan para undangan. Adalah BID’AH yang tidak disukai dalam agama. Sebagaimana berkumpul dirumah simayit itu sendiri. Karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii ” Kami ( yakni para Shahabat semuanya ) memandang/menganggap ( yakni menurut madzhab kami para Shahabat ) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan adalah sama dengan hokum Niyahah (meratapi mayit) yakni haram.” (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 146)
Dan tidak disukai menyediakan makana pada hari pertama kematian. Hari ketiga, sesudah seminggu, dan juga memindahkan makanan ke luburan secara musiman seperti haul. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 146)
Dan diantara bid’ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)
Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID’AH, membuka seluas-luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat-rapatnya pintu-pintu keburukan, karena orang-orang memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)
2. Al-Umm
” Aku benci Al MA’TAM yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan .” (Al-Umm, Juz 1, hal 248)
3. Mughnil Muhtaj
Adapun menyediakan hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang-orang banyak disitu, adalah BID’AH, yang tidak disunatkan, dan didalam hal ini Imam Ahmad bin Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang sah dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii ” Kami ( yakni para Shahabat semuanya ) memandang/menganggap ( yakni menurut madzhab kami para Shahabat ) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan adalah sama dengan hokum Niyahah (meratapi mayit) yakni haram.” (Mughnil Muhtaj, Jus 1, hal 268)
4. Hasyiyatul Qalyubi
Syekh Ar Romli berkata “diantara bid’ah yang munkarat yang tidak dibenarkan agama, yang tidak disukai dikerjakan, yaitu sebagaimana yang diterngangkan dalam kitab Ar Raudlah, yaitu apa yang dikerjakan orang, yang disebut kifarah, dan hidangan makanan untuk acara berkumpul dirumah keluarga mayit. Baik senelum maupun sesudah kematian, dan juga penyembelihan dikuburan.” (Hasyiyatul Qalyubi, Juz 1, hal 353)
5. Al-Majmu’ Sarah Muhadzab
Adapun menyediakan hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang-orang banyak disitu, adalah BID’AH yang tidak disunatkan.” (Al-Majmu’ Sarah Muhadzab, Juz 5, hal.286
6. Al Fiqhu Alal Madzahibil Arba’ah
“Dan diantara BID’AH yang tidak disukai agama ialah, apa yang dikerjakan orang tentang menolong binatang-binatang ketika mayit dikeluarkandari tempat bersemayamnya, atau dikuburan, dan juga menghidangkan makanan yang diperuntukkna bagi orang-orang yang ta’ziah (menjenguk yang meninggal).” (Al Fiqhu Alal Madzahibil Arba’ah, Juz 1, hal 539)

(TAHLILAN dan SELAMATAN: Menurut Madzhab Syafi’i)

Dari awal sampai saat ini sudah teramat sangat jelas apa itu TAHLILAN/ MA’TAM dari sudut pandang Syari’ah (Al-Qur’an dan As-Sunah), Qaul Ulama, Kitab-kitab dan lain sebagainya, akan tetapi kenapa lagi-lagi masih banyak disekitar kita yang melakukan hal BODOH seperti itu, apakah para asatidz yang pura-pura tidak tahu ? ? ? tidak ingin tahu ? ? ? takut kehilangan BESEK (Berkat, Imbalan sehabis TAHLILAN/ MA’TAM), dan biasanya hal ini identik dengan kegiatan orang-orang NU, afwan ane pribadi miris ketika orang-orang diluar sana mencap NU sebagai Ahlul Bid’ah, ana miris karena ini semua perbuatan masyarakat BODOH yang TAQLID dan FANATIK yang mengaku-ngaku Nahdiyin akan tetapi ia tidak tau menau apa-apa (BODOH), majalah NU Al-Mawa’id menentang keras TAHLILAN/ MA’TAM bahkan didalam majalah yang tebit pada tahun 1930an itu mengutip “bahwasanya Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan TAHLILAN/ MA’TAM min AF’ALIL JAHILIYAH (PERBUATAN ORANG JAHILIYAH) dan menurut sejarah itu berasal dari agama BUDHA, naudzubillahhi min dzalik.
K.H Wahab Muhsin dan K.H Muhammad Syihabuddin Muhsin rohimahullah beserta para asatidz NU lainnya berjuang memerangi TAHLILAN/ MA’TAM 17 tahun lamanya didaerah Suka Rame, Suka Rapih, Singaparna, Tasikmalaya. Ini harus kita jadikan contoh terutama bagi orang-orang yang mengaku Ahlussunah. karena NU bukan perkumpulan orang yang CINTA BID’AH, TAQLID BUTA dan FANATIK akan tetapi tajdid yang senantiasa berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunah Shahihah.
“Yaa Allah bukakan lah pintu hidayahMu dan bimbinglah kami kedalam jalan yang Engkau ridhoi”

Note: Saya tidak cantumkan penulisnya karena lupa, tidak tercatat, tapi saya setuju dengan dalil-dalil ini walaupun tidak setuju dengan kata-kata B***H, kepada penulis,  saya mohon maaf karena  tulisannya dimuat di blog ini.Terima kasih

K.H. Ahmad Dahlan

kh ahmad dahlan

KH Ahmad Dahlan

Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991).

Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).

Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.

Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991).

Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).

Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Disamping itu, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi entrepreneurship yang cukup menggejala di masyarakat.

Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sebabnya kegiatannya dibatasi.

Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari dan Imogiri dan lain-Iain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama Al-Munir, di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah.

Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jama’ah-jama’ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang diantaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33).

Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum).

A. Hassan, Guru “Persatuan Islam” Bandung

A. Hassan

A. Hassan

Ahmad hassan nama sebenarnya Hassan bin Ahmad, tetapi berdasarkan kelaziman penulisan nama orang di singapura, yang menuliskan nama orang tua (ayah) didepan, maka Hassan bin Ahmad dikenal dengan panggilan Ahmad Hassan, untuk selanjutnya disebut A. Hassan, lahir disingapura pada tahun 1887, berasal dari keluarga campuran Indonesia dan India.

Ayahnya bernama Ahmad, juga bernama Sinna Vappu Maricar, seorang penulis yang ahli dalam agama Islam dan kesusastraan Tamil. Ahmad pernah menjadi redaktur majalah Nur al-Islam (sebuah majalah dan sastra Tamil), disamping sebagai penulis beberapa kitab dalam bahasa Tamil dan beberapa terjemahan dari bahasa Arab. Ahmad sering juga berdebat dalam bahasa dan agama serta mengadakan ruang tanya jawab dalam surat kabarnya.

Ibunya bernama  Muznah yang berasal dari Palekat Madras, tetapi lahir di Surabaya. Ahmad dan Muznah menikah di Surabaya ketika Ahmad berdagang ke kota Surabaya, dan kemudian mereka menetap di Singapura (Deliar Noer, 1985:97-98).

Masa kecil A. Hassan dilewatinya di Singapura. Pendididkan yang dialaminya dimulai dari sekolah dasar di Singapura, akan tetapi tidak pernah diselesaikannya. Kemudian ia masuk sekolah Melayu dan menyelesaikan hingga kelas empat serta memasuki sebuah sekolah dasar pemerintah Inggris di Singapura sampai tingkat yang sama disamping belajar bahasa Tamil dari Ayahnya. Di sekolah Melayu itulah ia belajar bahasa Arab, Melayu, Tamil dan bahasa Inggris. Sekitar usia tujuh tahun ia pun, sebagaimana anak-anak pada umumnya, belajar Al-qur’an dan memperdalam agama Islam.

A. Hassan mulai bekerja mencari nafkah pada usia 12 tahun sambil berusaha belajar privat dan berusaha untuk menguasai bahasa Arab dengan maksud agar dapat memperdalam pengetahuannya tentang Islam. A. Hassan bekerja pada senuah toko kepunyaan iparnya, sulaiman, sambil belajar mengaji pada Haji Ahmad di Bukittiung dan pada Muhammad Thaib seorang guru yang terkenal Minto Road. Pelajaran yang diterima A. Hassan pada saat itu sama saja dengan apa yang diterima oleh anak-anak lain, seperti tatacara shalat, wudhu, shaum dan lain-lain (Syafiq A. Mugni, 1980:12).

A. Hassan lebih banyak mempelajari ilmu nahwu dan shorof pada Muhammad Thalib. Sebagai orang yang keras kemauaannya dalam belajar nahwu dan shorof, ia pun tidak keberatan jika harus datang dinihari sebelum shalat subuh.  Setelah kira-kira empat bulan belajar nahwu dan shorof, ia merasakan bahwa pelajarannya tidak mendapat kemajuan, karena apa yang diperintahkan oleh gurunya hanyalah untuk dihafal dikerjakan tanpa dapat dimengerti, sehingga akhirnya semangat belajarnya mulai menurun. Dalam keadaan demikian, pada saat gurunya pergi menunaikan ibadah haji, ia beralih mempelejari  bahasa Arab pada Said Abdullah Al-Musawi selama tiga tahun.

Disamping itu, ia pun belajar pada Abdul Latif seorang ulama yang terkenal  di Malaka dan Singapura, srta belajar pula pada Syekh Hassan seorang ulama yang berasal dari Malabar dan Syekh Ibrahim seorang ulama yang berasal dari India. Dalam mempelajari dan memperdalam agama Islam dari beberapa oarang guru tersebut kesemuanya ditempuh sampai kira-kira tahun 1910, menjelang ia berusia 23 tahun.

Disamping belajar memperdalam agama Islam, dari tahun 1910 hingga tahun 1921, A. Hassan melakukan berbagai macam pekerjaan di Singapura. Sejak tahun 1910 ia telah menjadi seorang guru tidak tetap di madrasah oarng-orang India di Arab street dan Baghdad street serta Geylang Singapura hingga tahun 1913. Kemudian menjadi guru tetap menggantikan Fadlullah suhaimi pada Madrasah Assegaf di jalan sultan.

sekitar tahun 1912-1913, A. Hassan menjadi anggota redaksi koran Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Singapore press dibawah pinpinan Inche Hamid dan Sa’dullah khan. Ia banyak menulis artikel tentang agama  Islam yang bersifat nasihat, anjuran berbuat baik dan mencegah kejahatan yang sering diketengahkannya dalam bentuk syair.

Tulisan-tulisan A. Hassan banyak pula menyoroti masalah aqidah dan ibadah, dan kadang-kadang tulisannya bersifat mengkritik hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, misalnya tulisan yang mengecam qadli (hakim) yang memeriksa suatu perkara dengan cara mengumpulkan tempat duduk pria dan wanita dalam satu ruangan.

Disamping itu, pidato-pidatonya pun kadang-kadang bersifat kritis, sepeti halnya dalam sebuah pidato ia mengecam kemunduran umat Islam, sehingga oleh pihak pemerintah ia dianggap berpolitik dalam pidatonya itu, akibatnya ia tidak diperkenankan lagi berpidato di muka umum.

Setelah berhenti beberapasaat, sejak tahun 1915-1916, ia kembali aktif membentu surat kabar utusan Melayu dengan bentuk dan sifat tulisan yang sama. Dalam karirnya sebagai pengarang di Singapura, ia pernah membuat cerita humor yang berjudul “tertawa” sebanyak empat jilid.

Selain itu, iapun tidak segan-segan bekerja menjadi buruh toko, berdagang tekstil, permata, minyak wangi, menjadi agen distribusi es, agen vulkanisir ban mobil, pernah juga menjadi juru tulis di kantor jemaah Haji di Jeddah pilgrrims office Singapura serta menjadi guru bahasa Melayu dan bahasa Inggris di Pontian kecil, Sanglang, Benut dan Johor (Syafiq A. Mughni, 1980:14; Endang Syaifuddin Anshary, 1985:18).

Pada tahun 1921, A. Hassan hijrah dari Singapura ke Surabaya dengan maksud untuk mengambil alihpimpinan toko tekstil yang menjadi milik pamannya, Haji Abdul Latif. Pada masa itu Surabaya menjadi tempat pertikaian antara “kaum muda” dengan “kaum tua”. Kaum muda dipelopori oleh Faqih Hasyim, seorang pendatang yang menaruh perhatian dalam masalah-masalah keagamaan. Ia memimpin kaum muda dalam upaya melakukan gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Surabaya denga cara tukar pikiran, tablig dan diskusi-diskusi keagamaan. Kaum muda di surabaya ini mendapat pengaruh pembaharuan Islam dari karangan-karangan abdullah Ahmad, Abdull Karim Amarullah dan Zainudin Labay dari Sumatra serta Ahmad Soorkati dari Jawa.

Haji Abdul Latif, paman A. Hassan yang juga gurunya pada masa A. Hassan masih kecil, mengingatkan A. Hassan agar tidak melakukan hubungan dengan Faqih Hasyim yang dikatakannya telah membawa masalah-masalah pertikaian agama di Surabaya, dan dianggap pula oleh pamannya sebagai seorang Wahhabi (syafiq A. Mugni, 1980:16;Deliar Noer,1985:98).

Tetepi lain halnya denga A. Hassan dalam suatu kunjungannya denga kiayi haji Abdul Wahab, yang kemudian menjadi seorang tokoh Nahdlatul Ulama, A. Hassan lebih banyak mendengar tentang pertikaian antara kaum muda dengan kaum tua.

Dalam percakapannya denga kiayi Wahab ini, Kiyai Wahab mengambil salah satu contoh pertentangan dalam masalah ushali yang dipaktikan oleh kaum tua  sebelum melakukan ibadaht shalat dengan bersuara, tetapi kaum muda menolak praktik ushali ini karena tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an maupun Hadits Nabi. Kaum muda berpendapat bahwa agama, agar dapat dikatakan agama, hendaklah didasarkan atas dasar Al-Qur’an dan Hadits shahih. Oleh karena ushali merupakan suatu hal baru yang diintrodusir oleh ulama yang datang kemudian dan tidak terdapat dalam kedua sumber hukum tersebut, maka kaum muda menolaknya dan dianggap tidak tepat dibacakan pada saat sebelum shalat.

Masalah yang ditemukan A. Hassan dalam pembicaraannya dengan Kiyai Wahab, menyebabkan ia berfikir lebih jauh tentang masalah tersebut, danlambat laun ia sampai pada kesimpulan yang benar yang didasarkan pada penelitiannya terhadap Al-Qur’an dan Hadits Shahih bahwa kaum mudalah yang benar, ia tidak menemukan suatu dalil pun yang mendukung terhadap praktik ushali kaum tua tersebut.

Melihat persoalan yang muncul ke permukaan, terutama masalah gerakan pembaharuan Islam yang sedang ramai dan pertentangan dengan kaum tua dengan kaum muda yang terus berlanjut di surabaya, A. Hassan lebih banyak lagi mencurahkan perhatiannya untuk memperdalam agama Islam. Maksud sebenarnya datang ke Surabaya untuk berdagang tidak dapat dipertahankan, bahkan kemudian is lebih banyak bergaul dengan Faqih Hasyim dan kaum  muda lainya.

Dalam kesempatan yang lain ia pun banyak bergaul dengan tokoh-tokoh Syarekat Islam seperti H.O.S Tjokroaminoto, A.M.Sangadji, Bakri Suroatmodjo, Wondoamiseno dan lain-lain (Tamar Djaya, 1980:20).

Usaha dagangnya pada akhirnya mengalami kemunduran dan toko yang diurusnya diserahkan kembali kepada pamannya. Ia mulai usaha lain dengan membuka perusahaan tambalban mobil, tetapi tidak lama kemudian tutup kembali. Melihat usaha A.Hassan tidak mengalami kemajuan yang berarti, dua orang sahabatnya Bibi Wantee dan Muallimin, mengirim A. Hassan untuk mempelajari pertenunan di Kediri karena saat itu di Surabaya banyak para pedagang yang akan membuka perusahaan tenun.

Selesai belajar pertenunan di Kediri A. Hassan kemudian melanjutkan pelajarannya ke sekolah pertenunan pemerintah di kota Bandung. Di Bandung inilah A. Hassan tinggal pada keluarga Muhammad Yunus, salah seorang pendiri organisasi Persatuan Islam (Persis). Dengan demikian A. Hassan telah mendekatkan dirinya pada pusat kegiatan penelaahan dan pengkajian Islam dalam organisasi Persis sebagaimana pula ia sangat tertarik dalam masalah-masalah keagamaan, dan tidak ingin ditinggalkannya.

Pada akhirnya ia pun tudak lagi berminat mendirikan perusahaan tenunnya di Surabaya, tetapi di Bandung yang rupanya disetujui oleh kawan-kawannya di Surabaya. Akan tetapi perusahaan tenun yang didirikannya gagal sehingga terpaksa ditutup. Sejak itulah minatnya untuk berusaha tidak ada lagi, malahan kemudian ia mengabdikan dirinya dalam penelaahan dan pengkajian Islam dan berkiprah dalam jam’iah Persis.

http://w174rd.tk/2010/09/07/riwayat-hidup-a-hassan-2/

Software

http://www.ziddu.com/download/11315649/1by1_170.exe.html

http://www.ziddu.com/download/10192468/Turbo_Pascal7.0.zip.html

http://www.ziddu.com/download/10192436/TPW1.5.rar.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.