Coretan Mengenang “Pun Uwa”

الحمد لله الذى انعم علينا بنعمة الايمان والاسلام . نعمةً جزيلةً على الدوام الى يوم مَرْجِعِ جميعِ الاَنام . واشهد انْ لا اله ا لاّ الله المَلِكُ القدّوس السلام . وأشهد انّ سيدنا محمّدا عبده ورسوله ذُوالمُعجِزة الدائمة الى اخرالا يّام

(امّابعد)

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقةٍ جاريةٍ، أو علمٍ ينتفعُ بهِ، أو ولدٍ صالحٍ يدعوُ لهُ

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Taqdir Alloh telah menetapkan bahwa jatah umur Alm. Ustad Tonny Rustandi sudah habis, ajalnya sudah sampai. Beliau meninggalkan kita pada hari Minggu sekitar jam 9 pagi dalam usia 57 tahun.

Mudah-mudahan almarhum pulang dengan membawa Iman dan Islam, dimaafkan semua kesalahan, diterima semua amal ibadahnya, diterangkan kuburnya, mengalir amal jariyahnya, bermanfaat bagi kita dan beliau ilmu yang telah diajarkan, digantikannya oleh Alloh SWT penganti sebagai generasi penerus yang beramal ma’ruf nahyi munkar, maka tugas kitalah yang masih hidup, masih diberi kesehatan dan waktu untuk melanjutkan perjuangan dakwah sesuai dengan tuntunan yang digariskan Alloh melalui lisan Rosulnya, mudah-mudahan beliau meninggal dalam dengan jiwa muthmainnah, seperti yang digambarkan dalam al-Quran.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi
diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam Surga-Ku.” (QS. Al-Fajr:27-30)

saya berwasiat dengan taqwa, taqwa yang oleh Ali bi Abi Tholib RA disebutkan dengan alisti’dadu li yaumir rohiel (mempersiapkan diri pada hidup sesudah mati). Oleh karena itu, marilah hal ini kita jadikan ibroh (pelajaran) bahwa sesungguhnya manusia itu sedang menjemput ajal, seperti orang yang akan berlayar dengan perahu menuju kampung akhirat, ada yang masih dijalan, ada yang sudah masuk perahu, ada yang sudah sampai kampung akhirat. Atau seperti antrian yang sedang diabsen, hai fulan! Engkau sudah waktunya, hai fulanah! Engkau sudah waktunya. Dan ajal ternyata tidak pandang bulu, tidak karena anak-anaknya masih kecil yang perlu diurus sehingga ajal ditunda, masih muda, masih sehat, kaya, miskin, semua akan mati jika ajalnya sudah sampai.

Saya teringat kejadian yang belum lama ini terjadi, ada seseorang yang sedang berdiri dibawah jembatan layang pasopati (mungkin sedang berteduh atau sedang menunggu seseorang), tiba-tiba ban mobil yang sedang melaju di jalan layang tersebut lepas, menggelinding dan dan jatuh menimpa orang yang sedang diam dibawah jembatan tersebut, dan akhirnya meninggal. Itulah ajal, jika sudah tiba, maka tidak akan bisa ada yang menolak.

Kejadian-kejadian seperti ini, jika hati tidak terketuk, kita tidak memikirkan bahwa kejadian-kejadian serupa bisa saja menimpa kita, bertanyalah kepada diri sendiri, ada apa dengan iman kita? Sudah siapkan kita? Sudah sampai mana bekal yang sudah kita kumpulkan? Sudah siapkah kita dengan pertanyaan yang akan diajukan malaikat?.
Saya ingat ucapan beliau, katanya, “bahwa kalau membandingkan kepada usia Rosululloh SAW, bahwa usia saya tinggal 3 tahun lagi” (usianya ketika meninggal itu 57 tahun). Ternyata 3 tahun lebih cepat. Artinya kalau boleh kita katakan, jika umur sudah kepala 5 keatas, kalau tidak siap-siap gimana jadinya, orang yang siap-siap saja, bisa jadi selamat bisa jadi tidak, kita tidak tahu, apalagi yang tidak bersiap-siap. Tentu saja itu bukan berarti usia dibawah kepala 5 tidak akan mati.

Tadi saya membacakan sebuah hadits shohih riwayat Muslim.

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Jika menilik kepada hadits ini, ternyata hanya tiga perkara saja yang ada di dunia ini yang mengalir pahalanya sampai mati, dan ternyata semua itu hasil usaha dari si mati selama hidup di dunia, sedekah jariyah itu adalah usahanya, ilmu yang bermanfaat, hasil usahanya belajar dan mengajarkan, termasuk anak yang sholeh, adalah hasil didikan si mati, walaupun tidak didik, tetaplah orangtua memberi andil kepada si anak, karena dengan benih kedua orangtualah anak bisa dikandung dann dilahirkan.

Oleh sebab itu sayaberpesan, perbanyaklah sedekah jariyah, membantu orang lain, memberikan wakaf, janganlah kita sebut-sebut dengan harapan penghargaan dan pujian dari orang lain, jangan sampai pahala kita yang harusnya jadi amal jariyah, justru hilang bagai tertiup angin, digantikan hanya dengan pujian dan penghargaan dari manusia semata.

Banyaklah menuntut ilmu dan ajarkan kalau sudah bisa, karena menuntut ilmu adalah wajib, tholabul ilmu faridotun a’la kulli muslimin, banyaklah bertanya kepada ahlinya, sampaikan ilmu itu oleh yang hadir kepada yang tidak hadir. Sebagai contoh, coba hadirin pikirkan, jikalau wudhu kita salah, apakah sholat kita sah, wuhdu adalah syarat sah sholat, jika wudhu tidak sah maka sholatpun tidak sah. Tidak ada asalan kita tidak tahu, karena menuntut ilmu adalah wajib.

Didiklah anak-anak kita supaya menjadi anak sholeh, karena anak yang sholeh adalah aset kita didunia dan diakhirat. Awasi pergaulannya, perhatikan tingkah lakunya. Anak adalah titipan Alloh, jangan sampai anak kita sendiri yang justru menuntut kita diakhirat, “kenapa saya tidak dididik, kenapa saya tidak diajarkan agama”. Celaka kita!.

Ada yang harus sayasampaikan berkenaan dengan ajaran Islam terhadap orang yang meninggal dunia. Kewajiban kita terhadap yang meninggal dunia adalah 1. memandikan, 2. membungkus, 3. menyolatkan, 4. mengubur.
Setelah memandikan, membungkus, dan menyolatkan, lalu si mayat dimasukkan ke liang lahad (liang lahad, biasanya kita menyebut “liang lahat”, jika dilihat lafazh arabnya itu pakai huruf dal, jadi lahad, adalah cekungan memanjang di sisi arah kiblat tempat menyimpan mayat, ada juga yang disebut syaq, adalah lubang kecil memanjang didasar tengah lubang kubur tempat menyimpan mayat. Yang lazim disini adalah lahad, dan syaq itu bermasalah, sebab ada keterangan “bahwa lahad itu untuk kita dan syaq itu untuk selain kita), ucapkan “Bismilla-hi wa ‘ala millati Rasu-lilla-hi”, hadapkan ke kiblat, dan tidak di-azhan-kan.

Perlu diketahui, bahwa fungsi adzan adalah sebagai pertanda sudah masuk waktu sholat yang maktubah sekaligus sebagai ajakan untuk sholat berjamaah, Rosululloh dan sahabat serta orang setelahnya tidak pernah ada yang melakuan adzan kepada mayat, mengadzankan mayat itu adalah salah alamat, tidak mungkin mayat akan melakukan sholat, maka tidak heran tidak ada satupun hadits yang menerangka tentang azhan saat menguburkan mayat. Dan setelah selesai do’akanlah dan mintalah ampunan kepada Alloh dan ketetapan hati karena mayat sedang ditanya.

Ada kebiasaan yang berkembang ditengah masyarakat berkenaan dengan menggalnya sesoorang atau anggota keluarga yaitu tahlilan.

Dengan tidak bermaksud menyerang suatu kelompok atau golongan atau perorangan, dan tidak bermaksud menyudutkan suatu kelompok atau golongan atau seseorang, ini semata-mata ingin menyampaikan kepada ilmu kepada yang belum tahu atau yang ingin tahu. Dan sekaligus menjelaskan kenapa Ust. Tonny Rustandi tidak di-tahlilan-kan. Jangan sampai terjadi mis komunikasi atau salah faham disebabkan ketidaktahuan permasalahannya.

Harus kita jelaskan dulu, tahlil adalah mengucapkan kalimat tauhid la ilaha illalloh, seperti juga takbir mengucapkan kalimah Allohu Akbar, tahmid mengucapkan kalimah Alhamdulillah, tasbih mengucapkan kalimah subhanalloh, ta’awwudz mengucapkan kalimah a’udzubillahi minasysyaithonirrojiem.

Tahlilan adalah sebuah ritual berkumpulnya orang-orang di rumah setelah wafatnya seseorang 1,3,7,40,100,1000 hari yang biasanya diisi dengan membaca surat yaasin, tahlil, tahmid, shalawat mendoakan dan menghadiahkan bagi si mayat dan setelah selesai biasanya diadakan acara makan-makan . Atau ada juga yang melaksanakan tahlilan tiap malam ju’mat.

Jika kita buka tarikh atau hadits, maka acara tahlilan ini tidak pernah diperintahkan dan dicontohkan oleh Rosululloh, para sahabat, saat masa khulafaur rosidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, Tabiin, Tabiut tabiin, Imam Mazhab: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hambali, dll.

Jika tidak ada dalam hadits, dalam tarikh, atau siroh nabawi, dari mana asul-usul tahlilan ini?
Dalam catatan sejarah bahwa asal mula tahlilan ini adalah buah karya dari walisongo aliran tuban yang diketuai Sunan Kalijaga.

Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang diprakarsai diantaranya oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim, silsilah ke-12 dari pendiri jam’iyah Muhammadiyah) pada tahun 1404 atau tahun 808 Hijriah. Walisongo meyebarkan agama Islam di Pulau Jawa bertepatan saat berakhirnya kerajaan Hindu. Masa ini disebut masa transisi atau masa pergantian, penduduk waktu itu beragama Hindu, Budha, juga animisme, dinamisme dan paganisme.

Kebiasaan penduduk waktu itu diantaranya adalah Pinda Pitre Yajna, adalah keyakinan bahwa manusia mati sebelum karma, manusia masah ada, 1-7 hari rohnya masih di rumah, setelah itu pergi ke ahkerat, pada 40, 100, 1000 roh kembali lagi ke rumah keluarganya, maka pada hari-hari itu harus diadakan ritual, nyanyian, mantra agar menjadi karma, reinkarnasi manjadi manusia baik-baik.

Nah, walisongo mengalami kendala karena kebiasaan ini sudah mendarah daging dan susah dihilangkan. Dalam menghadapi masalah ini, terjadilah dua kelompok atau aliran dalam walisongo, yaitu aliran giri dan aliran tuban.
Aliran giri diprakarsai oleh Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Drajat. Aliran ini dalam masalah ibadah tidak mengenal kompromi dengan ajaran Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, Paganisme. Maka orang yang dengan sukarela masuk Islam harus meninggalkan ibadah yang bukan dari Islam. Karena kekonsistenan ini makan aliran ini disebut Islam Putih, dan pengikutnya sedikit.

Sedangkan aliran Tuban yang diprakarsai oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Muria, dikenal dengan pemahaman yang toleran. Mereka membolehkan melaksanakan kebiasaan peninggalan Hindu diantaranya Pinda Pinte Yajna tapi materinya diganti, mantra diganti dengan bacaan al-Quran, wiriz, dzikir dsb. Maka pengikutnya juga banyak, termasuk raja-raja Jawa yang tadinya Hindu mau masuk Islam.

Dalam musyawarah, Sunan Ampel pernah menanyakan hal ini kepada Sunan Kalijaga “Apakah tidak dikhawatrikan hal ini nantiya dianggap bagian dari ajaran Islam, apakah hal ini tidak akan menjadi bid’ah”?.

Dari catatan sejarah ini kita dapat kita lihat bahwa Pinda Pinte Yajna inilah yang sekarang dikenal sebagai tahlilan.
Maka tidak heran jika tahlilan juga tidak dikenal dinegara lain seperti mesir, saudi, palesitna, dll. Malahan teman forum saya di internet, kebetilan ia orang Aceh, katanya ia tidak mengenal ini yang ada hanya ta’ziah selama tiga hari. Dan ketika masalah ini di ajukan di forum, ada yang tersinggung dan marah, tapi kebanyakan mereka justru baru tahu bahwa tahlilan itu tidak ada perintah dan contohnya dari Rosululloh SAW.

Wallohu a’lam

2 responses to this post.

  1. “… , ternyata hanya tiga perkara saja yang ada di dunia ini yang mengalir pahalanya sampai mati, dan ternyata semua itu hasil usaha dari si mati selama hidup di dunia, sedekah jariyah itu adalah usahanya, ilmu yang bermanfaat, hasil usahanya belajar dan mengajarkan, termasuk anak yang sholeh, adalah hasil didikan si mati, walaupun tidak didik, tetaplah orangtua memberi andil kepada si anak, karena dengan benih kedua orangtualah anak bisa dikandung dann dilahirkan.”

    Pada kematian,
    Aku juga membahas tiga perkara, Kang!
    Mampirlah sesekali.

    Salam Damai!

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: