Surat-Surat Islam Dari Endeh

Ir. Soekarno

Ir. Soekarno

Bung Karno sosok perkasa ini akan selalu dikenang sebagai toko dunia yang lahir dari rahim Indonesia, rahim Nusantara. Pemikiran-pemikiran bung Karno ibarat mutiara yang senantiasa selalu bersinar, salah satunya adalah pemikiran bung Karno tentang Islam. Pemikiran yang sangat maju dijamannya, bahkan hingga saat ini sehingga tidak banyak yang dapat menerima, bahkan merasa terancam oleh pemikiran bung Karno ini. Dengan pemikiran-pemiran tersebut bung Karno konon khabarnya diangkat menjadi Tokoh Pembaharu disandingkan dengan sederet nama tokoh islam, namun kemudian gelar itu dihapuskan oleh pemerintah Soeharto dikarenakan dianggap pemikiran bung Karno mengarah pada konsep-konsep sekuler.

Dalam kurun waktu 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 tercatat surat menyurat bung Karno yang berisikan pemikiran beliau tentang Islam, Salah Satu Jargonya yang cukup menyengat dan pedas adalah “Islam Sontoloyo”.

Saya mencoba menghadirkan surat-menyurat bung Karno dari Endeh secara bersambung, semoga dapat kita renungakan bersama, isi dari surat menyurat itu tidak saya edit saya tampilkan apa adanya, saya hanya memberikan sedikit ulasan pada bagian awal dan bagian akhir. Semoga surat menyurat ini dapat mencerdaskan kita semua dan dapat menghidupkan api Islam di negeri tercinta ini, bung Karno telah melihat bahwasanya kebangkitan Islam di negeri ini adalah kebangkitan negeri ini, oleh karenanya mari kita selami pemikiran beliau untuk kemajuan bangsa Indonesia.

=====================================================

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 1 Desember 1934

Assalamu’alaikum,

Jikalau saudara-saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut berikut ini : Pengajaran Sholat, Utusan Wahabi, Al Muctar, Debat Talqien. Al Burhan Complete, Al Jawahir.

Kemudian, jika saudara-saudara bersedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal “sajid”. Ini buat saya bandingkan dengan alasan-alasan saya sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal yang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih rumit dari pada soal “sajid” itu, tetapi toch menurut keyakinan saya, salah satu kejelasan Islam Zaman sekarang ini, ialah pengamatan manusia yang menghampiri kemusrikan itu. Alasaan-alasan kaum “sajid” misalnya, mereka punya “brosur kebenaran”, saya sudah baca, tetapi tidak bisa menyakinkan saya. Tersesatlah orang yang mengira, bahwa Islam mengenal satu “Aristokrasi Islam”. Tiada satu agama yang menghendaki kesamarataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu adalah salah satu sebab yang mematahkan jiwa suatu agama dan umat, oleh karena pengeramatan manusia itu melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebathilan!.

Sebelum dan sesudahnya terima itu buku-buku yang saya tunggu-tunggu benar, saya mengucapkan terimakasih.

Wassalam,

SUKARNO

=====================================================

Endeh, 25 Januari 1935

Assalamu’alaikum,

Kiriman buku-buku gratis berserta karto pos, telah saya terima dengan girang hati dan terimakasih yang tiada hingga. Saya menjadi termenung sebentar, karena tak selayaknya di limpahi kebaikan hati saudara yang sedemikian itu. Ya Allah Yang Maha Murah!.

Pada ini hari semua buku dari saudara yang ada pada saya, sudah habis saya baca. Saya ingin sekali membaca lain-lain buah pena saudara. Dan ingin pula membaca “Bukhari” dan “Muslim” yang sudah tersalin dalam bahasa Indonesia atau Inggris saya perlu kepada Bukhari dan Muslim itu, karena di situlah di himpun hadis-hadis yang sahih. Padahal saya membaca keterangan dan salah seorang pengenal Islam bangsa Inggris, bahwa di hadis-hadis Bukhari pun masih terselip hadis-hadis yang lemah. Dia menerangkan bahwa kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketahayulan orang Islam, banyaklah karena hadis lemah itu, yang sering lebih “laku” dari ayat-ayat Al Quran. Saya kira anggapan ini adalah benar. Berapa besarkah bencana yang telah datang pada umat Islam dari misalnya “hadis” yang mengatakan bahwa “dunia” bagai senai akherat bagi orang “muslim”, atau “hadis” bahwa satu jam bertafakur adalah lebih baik dari pada beribadah satu tahun, atau “hadis” , bahwa orang-orang Mukmim harus lembek dan menurut seperti unta yang telah di tusuk hidungnya!.

Dan adakah persatuan Islam sedia sambunganya Al Burhan I – II ? pengetahuan saya tentang “Wet” mendesak kepada “Dien”

Haraplah sampaikan saya punya compliment kepada Tuan Natsir atas ia punya tulisan-tulisan yang memakai bahasa Belanda. Anatara lain ia punya Inleiding di dalam “Komt tot bet gebed” adalah menarik hati.

Wassalam dan Silaturrahmi.

SOEKARNO

=====================================================

Surat-surat Islam dari Endeh 2

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 26 Maret 1935

Assalamu’alaikum W.w.,

Tuan punya kiriman pos paket telah tiba ditangan saya, seminggu yang lalu. Karena terpaksa menunggu kapal, baru ini harilah saya bisa menyampaikan kepada Tuhan terima kasih kami laki-isteri serta anak. Biji jambu mede menjadi “ganyeman” seisi rumah; di Edeh ada juga jambu mede, tapi varieteit “liar” , rasanya tak nyaman. Maklum , beluma ada orang yang menanam varieteit yang baik. Oleh karena itu , maka jambu mede itu menjadikan pesta. Saya punya mulut sendiri tak berhenti-henti mengunyah!.

Buku yang tuan kiriman itu segera saya baca. Terutama “Soal-Djawab” adalah suatu kumpulan jawahir-jawahir. Banyak yang semula kurang terang, kini lebih terang. Alhamdullilah!.

Saya belum ada Bukhari dan Muslim yang bisa dibaca. Betulkah belum ada Bukhari Inggris? Saya pentingkan sekali mempelajari hadis, oleh karena saya tuliskan sedikit di dalam salah satu surat saya yang terdahulu, dunia Islam menjadi mundur oleh karena banyak orang di “jalankan” hadis yang dhaif dan yang palsu. Karena hadis-hadis yang demikian itulah, maka agama Islam menjadi diliputi oleh kabut-kabut kekolotan, ketahayulan bid’ah, anti rasionalisme, dll. Padahal tak ada agama yang lebih rasional dan simplistic daripada Islam. Saya ada sangkakan keras bahwa rantai taqlid yang merantai ruh dan semangat Islam dan yang merantaikan pintu-pintu Bab el Ijthiad, antara lain, ialah hasilnya hadis-hadis yang dhaif dan palsu itu. Kekolotan dan kekonsevatifan-pun dari situ datangnya. Karena itu adalah saya punya keyakinan yang dalam, bahwa kita tak boleh menghasilkan harga yang mutlak kepada hadist. Walaupun menurut penyelia diakatakan SHAHIEH. Human reports (berita yang datang dari manusia) tak absolute, absolute hanyalah kalam Ilahi. Benar atau tidaknya pendapat saya ini? Di dalam daftar buku, saya baca Tuan ada sedia “Jawahirul-Bukhari”. Kalau Tuah tiada keberatan , saya minta buku itu, niscaya di situ banyak pengetahuan pula yang saya bisa ambil.

Dan kalau Tuan tidak keberatan pula, saya minta “keterangan hadis mi’raj”. Sebab, saya mau bandingkan dengan saya punya pendapat sendiri, dan dengan pendapat Essad Bey, yang di dalam salah satu bukunya ada mengasih gambaran tentang kejadian ini. Menurut keyakinan saya, tak cukuplah orang menafsirkan mi’raj itu dengan percaya saja, yakni dengan mengecualikan keterangan “akal”. Padahal keterangan yang rasional di sini ada. Siapa kenal sedikit ilmu psikologi dan para psikologi, ia bisa mengasih keterangan yang rasionalitis itu. Kenapa suatu hal harus “dighaibkan” kalau akal bisa menerangkan ?.

Saya ada keinginan pesan dari Eropa, kalau Allah mengabulkannya dan saya punya mbakyu suka membantu uang harganya, bukunya Ameer Alie “The Spirit Of Islam”. Baiklah buku ini atau tidak? Dan dimana uitgevernya ?

Tuan, kebaikan budi Tuan kepada saya, hanya sayalah yang merasai betul harganya, saya kembalikan lagi kepada Tuhan. Alhamdulilah, segala puji kepadaNya.

Dalam pada itu, kepada Tuan 1.000 kali terimakasih.

Wassalam,

SUKARNO

=====================================================

Satu yang saya kagumi dari bung Karno adalah semanagatnya untuk belajar, dalam kondisi di asingkan seperti itu, jika saya mungkin saya sudah memikirkan entah tentang apa, namun bung Karno masih memikirkan buku, dan terus ingin membaca buku karena bung Karno meyakini bahwa Bab El Ijtihad tidak boleh di tutup, tidak boleh ada sesuatu yang dibakukan karena pembakukan sesuatu akan bertentangan dengan hukum alam yang selalu bergerak, selalu hidup.

Buat bung Karno pemahaman adalah sesuatu yang hidup, agama adalah sesuatu yang dinamis yang harus terus diperbahartui pemahamannya dari waktu ke waktu, pemahaman kitalah yang perlu diperbaharui, bukan agamanya.

oleh karenanya yang dulu ghaib sekarang bisa jadi dengan kemajuan science menjadi bukan ghaib lagi, semisal bagaimana air dapat mensucikan tubuh dan jiwa kita ketika seseorang berwudhu. Dari doa dan niat yang kita pancarkan melalui getar pikiran merubah Kristal-kristal air sehingga mempengaruhi tubuh dan jiwa, hal ini sudah dibuktikan oleh ilmuan dari Jepang. Semisal segela air yang di bacakan doa Kristal airnya akan berubah, dan ketika diminum dapat merubah Kristal air yang ada di dalam tubuh danpaknya adalah kesehatan. Banyak sekali yang dulunya ghaib namun sekarang sudah dapat dijelaskan oleh kemajuan teknologi dan pengetahuan manusia.

Termasuk di singgung oleh bung Karno mengenai Is’ra dan Mi’raj, bung Karno tidak mengatakan bahwa dia tidak mempercayai peristiwa itu, namun coba kita gali lagi, coba kita renungkan lagi, pasti ada makna yang tersembunyi di balik itu. Dan bung Karno mengajak kita untuk merenungkan hal itu, menggali akan hal itu.

Dan itulah yang membuat bung Karno menjadi besar dan tetap dikenang sepanjang masa, saatnya kita kembali membuka Bab El Ijtihad, boleh jadi anda tidak setuju, itu urusan anda, namun juga jangan merecoki mereka-mereka yang tengah mencoba berijtihad untuk memperbaiki keimanan mereka, untuk memperbaiki khadari cinta mereka. Hidupmu adalah hidupmu, itu urusanmu, dan hidupku adalah hidupku dan itu menjadi urusanku, menjadi tanggungawajabku terhadap Allah. Dan aku dengan sangat sadar, menyadari bahwa setiap perbuatanku akan aku pertanggungjawabkan dihapan Allah. Dan aku tidak akan bersembunyi dibalik bujuk rayu setan atau kehilafan atau apapun jika aku salah, aku akan dengan jujur mengatakan bahwa aku salah, dan aku mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah, oleh karenanya saat ini aku membuka kembali Bab El Ijtihad agar aku dapat terus memperbaiki diriku.

So mari kita buka kembali Bab El Ijtihad yang sudah kita lupakan.

=====================================================

Surat-surat Islam dari Endeh 3

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 17 Juli 1935

Assalamu’alaikum,

Telah lama saya tidak kirim surat kepada Saudara. Sudah kah saudara terima saya punya surat yang akhir, kurang lebih dua bulan yang lalu ?.

Kabar Endeh: sehat wal’afiat, Alhamdullilah. Saya masih terus studi Islam, tetapi saya kekurangan perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis “termakan”. Maklum, pekerjaan saya sehari-hari , sudah cabut-cabut rumput di kebun dan di samping “mengobrol” dengan anak bini buat menggembirakan mereka, sisa waktu saya pakai untuk membaca saja. Berganti-ganti membaca buku-buku Ilmu Pengetahuan Sosial dengan buku-buku yang mengenai Islam. Yang belakangan ini, dari tangan orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangan kaum Ilmu Pengetahuan yang bukan Islam.

DI Endeh sendiri tak seorangpun yang bisa saya tanyai, karena semuanya memang kurang pengetahuan (seperti biasa) dan kolot bin kolot. Semuanya hanya bertaqkid saja zonder tahu sendiri apa-apa yang pokok; ada satu dua pengetahuan sedikit, di Endeh ada seorang “sajid” yang sedikit terpelajar, tetapi tidak dapat memuskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun dari “kitab Fiqih”: mati hidup dengan kitab fiqih itu, dus-kolot, dependent, unfree, taqlid, Quran Api Islam seakan-akan mati, karena kitab fiqih itulah yang seakan-akan menjadi algojo “Ruh” dan “Semangat” Islam. Bisa sebagai misal, satu masyarakat itu hanya dialaskan saja kepada “Wetboek van starafrecht” dan “Burgerlijk Wetboek”, kepada artikel ini dan artikel itu? Masyarakat yang demikian itu akan segera menjadi masyarakat “mati”, masyrakat “bangkai”, masyarakat ialah justeru ia punya hidup, ia punya nyawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada ruh, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sekali tenggelam di dalam “kitab-fiqih” itu tidak terbang seperti burung Garuda di atas udara-udaranya agama yang hidup.

Nah, negitulah keadaan saya di Endeh; mau menambah pengetahuan, tetapi kurang petunjuk. Pulang balik kepada buku-buku yang ada saja. Padahal buku-buku yang tertulis oleh autoriteit-autoriteit ke Islaman itu pun, masih ada yang mengandung beberapa hal yang belum memuaskan hati saya, kadang-kadang malahan bertolak oleh hati dan ingatan saya. Kalau di negeri ramai, tentu gampang melebarkan saya punya sayap. . . . .

Alhamdulliah, antara kawan-kawan saya di Endeh, sudah banyak yang mulai luntur kekolotan dan kejumudannya. Kini mereka mulai sehaluan dengan kita dan tidak mau mengambing saja lagi kepada kekolotan lagi kepada kekolotannya, ketahayulannya, kemusyrikannya dan mulai terbuka hatinya buat agama yang “hidup”.

Mereka ingin baca buku-buku Persatuan Islam, tetapi karena malaisme, mereka minta kepada saya mendatangkan buku-buku itu dengan separuh harga. Sekarang saya minta keridhaan Tuan mengirimkan buku-buku yang saya sebutkan dibawah ini dengan separuh harga…. Haraplah Tuan ingatkan, bahwa yang mau baca buku-buku ini adalah korban-korban malaisme, dan bahwa mereka pengikut-pengikut baru dari haluan muda. Alangkah baiknya kalau mereka itu bisa sembuh sama sekali dari kekolotan dan kekonservatifan mereka itu; Endeh barangkali bukan masyrakat mesum sebagai sekarang !.

Bagi saya sendiri, saya minta kepada saudara hadiah satu dua buku apa saja yang bisa menambah pengetahuan saya, terserah kepada saudara buku apa.

Terima kasih lebih dahulu, dari saya dan kawan-kawan di Edeh.

Sampaikan salam saya kepada saudara-saudara yang lain.

Wassalam,

SUKARNO.

=====================================================

Ah, kekolotan. Bung Karno pernah cerita sewaktu di Edeh ketika sedang diskusi mengenai Islam dan Ilmu pengetahuan social lainnya, temperature sempat naik menjadi 180 derajat, hal ini di karena kekolotan, dan apa yang di lakukan oleh Bung Karno hanya tertawa dan berlalu.

Kita tidak dapat berdikusi dengan mereka yang kolot, yang bisa di lakukan hanyalah berlalu. Mungkin di dalam berlalunya itu kita akan di cemooh dan dikatai sebagai pengecut, namun cemoohan itu tidak membuat diri kita menjadi pengecut. Karena betapa rendahnya diri kita jika keperkasaan atau kejantanan di nilai dari sebuah ajang perdebatan.

Dan kekolotan itu berasal dari kurangnya pengetahuan, kurangnya pengalaman, Bukan kerena bodoh, meski orang yang kolot sering kali berlaku bodoh. Mungkin bisa jadi orang yang klolot memiliki segudang pengetahuan, tetapi tidak pernah di praktekan, mirip burung beo. Bisa dan pintar bekata-kata tetapi tida mengerti apa yang diucapkannya, tiada pernah menyelami, tiada pernah mengalami, semua berdasarkan katanya.

So saatnya membuka diri , dan biarkan hawa segar ilmu pengatuah dari segala penjuru arah menyegarkan diri kita, boleh jadi kita tidak setuju dengan kelembabannya, namun jangan ditolak, biarkan saja, karena bisa jadi esok anda dapat memahami kelembabannya tersebut. Kelembabam itu tidak akan pernah dapat menyesatkan kita, karena apa karena saat ini di dunia ini kita semua sedang tersesat. Oleh karena di dalam doa kita berucap kepada Allah, “Ya Allah Ya Rabb Tunjukilah aku jalan yang lurus dan benar”, andai kita sudah tahu mana jalan lurus dan benar itu kita tidak akan berdoa seperti itu dan kita juga sudah tidak berada di sini. Sahabat saya, sekaligus guru, Pak Triwidodo pernah menulis di dalam artikelnya Renungan Kesembilan Dari Lima Belas Pandangan Hidup Vivekananda,: “Aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru , ulangi niat itu dalam hati………

Hanya niat sahabat, hanya niat dan itu sudah cukup.

=====================================================

Surat – Surat Islam Dari Endeh 4

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 15 September 1935,

Assalamu’alaikum,

Paket Pos telah kami ambil dari kantor pos, kami di Endeh semua menyampaikan banyak terimakasih atas potongan 50% yang Tuan izinkan itu. Kawan-kawan semua bergirang, dan mereka bermaksud lain kali akan memesan buku-buku lagi, Insya Allah.

Saya sendiripun tak kurang-kurang berterimakasih, mendapatkan hadiah lagi beberapa brochures. Isinya brochure kongres Palestina itu, tak mampu menangkap “Center Need Of Islam”. Di Palestina orang tak lepas dari convensionalusm, tak cukup kemampuan buat mengadakan perubahan yang radikal di dalam aliran nyata membawa Islam kepada kemunduruan. Juga pimpinan kongres itu ada “rumit”, orang seperti tidak tahu apa yang dirapatkan, bagaimana caranya tehnik kongres. Program kongres yang terang dan nyatapun tidak ada. Orang tidak zangkelijk, dan saya kira kongres itu, orang terlalu “menutup pantat satu sama lain” terlalu “caressing each other”, terlalu “mekaar lekker maken”. Memang begitulah gambarannya di dunia Islam sekarang ini : kurang ruh yang nyata, kurang tenaga yang wujud, terlalu membedaki satu sama lain”, terlalu membanggakan sesuatu negeri Islam yang ada sedikit berkemajuan. Orang Islam biasanya sudah bangga kepada “Mesir” dan “Turki”! terlalu mengutamakan pulasan-pulasan yang sebenarnya tiada tenaga ! ! !

Brosur yang lain-lain sedang saya baca, Inya Allah nanti saya akan ceritakan kepada Tuah saya punya pendapat tentang brosur-brosur itu. Terutama brosurnya Tuan A.D Hasnie saya perhatikan betul-betul. Buat sekarang ini, sesudah saya baca brosur Hasnie sambil lalu, maka bisalah saya katakana bahwa “cara pemerintahan Islam” yang diterapkan di situ itu, tidaklah memuaskan saya, karena kurang “up to date”. Begitulah hukum kenegaraan Islam?, Tuah A. D. Hasnie menerangkan, bahwa dekorasi parlementer itu menyelamatkan dunia ?. Memang sudah satu anggapan-tua, bahwa demokrasi parlementer itu puncaknya ideal cara pemerintahan. Juga Moh. Ali di dalam ia punya tafsir Al-Quran yang terkenal, mengatakan bahwa itu idealnya Islam. Padahal ada cara pemerintahan yang lebih sempurna lagi, yang juga bisa dikatakan cocok dengan azas-azas Islam!.

Kejadian di Bandung yang Tuan beritakan, sebagian saya sudah tahu, bagaimana belum tahu. Tuan telah punya anak telah dipanggil lagi ketempat asalnya. Saya bisa menduga Tuan punya duka cinta, dan saya pun semakin insyaf, bahwa manusia punya hidup adalah sama sekali di dalam gemgaman illahi. Yah, kita harus tetap tawakal, dan haraplah Tuan suka sampaikan saya punya ajakan tawakal itu kepada saudara-saudara yang lain-lain, yang juga di timpa kesedihan.

Sampaikan salamku kepada semua.

SOEKARNO.

===========================================================

Endeh, 25 Oktober 1935

Assalamu’alaikum,

Sedikit kabar yang perlu anda ketahui : hari Jumat, malam sabtu 11/12 Oktober yang lalu, saya punya ibu mertua, yang ikut saya ke tanah Intermiran, telah pulang ke rahmatullah. Suatu percobaan yang sangat berat bagi saya dan saya punya isteri, yang alhamdulliah, kami pikul dengan tenang, tawakal dan ikhlas kepada illahi. Berkat bantuan Tuhan. Inggit tidak meneteskan airmata setetespun juga, begitu juga saya punya anak Ratna Juami, semoga Allah senantiasa menguatkan apa yang masih lembek pada kami bertiga. Yang timah menjadi besi, yang besi menjadi baja, amin!. Kesakitan ibu mertua dan wafatnya , adalah menyebabkan saya belum bisa menulis surat yang panjang, maafkanlah! Sakit ibu mertua hanya empat hari.

Wassalam

SUKARNO

=================================================

Bung Karno tengah membangunkan kita semua, membangunkan bangsanya. Satu hal yang Bung Karno yakini adalah jikalau Islam bangkit, maka bangkitlah negeri ini. Namun bukan Islam secara lisan, bukan Islam phisik, bukan Islam biasa, Bukan Islam pulasan-pulasan melainkan ruhnya Islam. Apinya Islam. Jiwanya Islam. Oleh karenanya Bung Karno memberikan perbandingan kemajuan di Negara Islam dengan tuntutan jaman, karena pemahaman kita semua tentang Islam berhenti kepada Negara Islam, berdirinya Negara Islam dan berlakunya Syariat Islam. Islam lebih dari pada undang-undang Syariat, Islam adalah Nikmat bagi Alam Semesta, oleh karenya jikalau Api Islam bangkit, Jikalau Jiwa Islam bangkit maka berjayalah negeri ini. Berjayalah Prikemanuasia dan Prikeadilan.Meski sebuah Negara menggunakan undang-undang syariat jikalau nilai-nilai kemanuas dan cinta kasih tidak tumbuh dan berkembang, maka negeri itu belumlah bangkit jiwa Islamnya.

Di samping itu Bung Karno juga menerangkan bahwa apa yang terjadi kepada kehidupan kita, hendaknya dapat terus memicu terjadinya pengembangan diri (evolusi diri) , Yang timah menjadi besi, yang besi menjadi baja. Dan itulah inti dari surat bung Karno ini, bahwa semua tidak mungkin berhenti, semua sedang bergerak, dan pemahaman kitapun harus terus bergerak, harus terus hidup. Dan itu adalah kehendak Illahi, kehendal Allah Tuhan yang maha esa adanya.

=================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 5

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 14 Desember 1936

Assalamu’alaikum,

Kiriman “Al-lisaan”, telah saya terima mengucapkan diperbanyak terima kasih kepada saudara. Terutama nomor ekstra persoalan “debat taqlid”, adalah sangat menarik perhatian saya. Saya ada maksud insya Allah kapan-kapan, akan menulis suatu artikel pemandangan atas nomer extra taqlid itu, artikel yang nanti boleh saudara muat pula ke dalam “Al-lisaan’. Sebab cocok dengan anggapan Tuan, Soal taqlid ini sangat maha penting bagi kita kaum Islam umumnya. Taqlid adalah salah satu sebab yang besar dari kemunduran Islam sekarang ini. Semenjak ada aturan taqlid, di situlah kemunduruan Islam cepat sekali. Tak heran ! Dimana genius dirantai, dimana akal pikiran diterungku, disitulah datang kematian.

Saudara telah cukuplah keluarkan alasan-alasan dalil Quran dan hadis. Saudara punya alasan-alasan itu , sangat meyakinkan.

Tapi masih ada pula alasan-alasan lain yang menjadi vonis atas aturan taqlid itu alasan-alsan “tarikh”, alasan-alasannya “sejarah”, maka tampaklah di situ akibat taqlid itu sebagai garis ke bawah , garis decline, sampai sekarang . Umumnya kita punya kiai-kiai atau ulama-ulama tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarah, ia boleh saja katakan tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada “agama khusus” saja, dan dari agama khusus ini, terutama bagian fiqih. Sejarah, apa lagi bagian “yang lebih dalam” , yakni yang mempelajari “kekuatan-kekuatan masyarakat” yang “menyebabkan” kemajuan atau kemunduran suatu bangsa, sejarah itu penting. Apa “sebab” mundur? Apa “sebab” bangsa ini dizaman ini begini? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang maha penting yang harus berputar terus-menerus di dalam diri kita punya ingatan, kalau kita mempelajari naik turunnya sejarah itu.

Tetapi bagaimana kita punya kiai-kiai dan ulama-ulama?, Tajwid tetapi pengetahuannya tentang sejarah umumnya “nihil”. Paling mujur mereka hanya mengetahui “tarikh Islam” saja, dan inipun terambil dari buku-buku tarikh Islam yang kuno, yang tidak dapat tahan ujian modern science, yakni tak dapat “tahan” ujiannya pengetahuan modern.

Padahal justeru ini sejarah yang mereka abaikan itu, justeru ini persaksian sejarah yang mereka remehkan itu, membuktikan dengan nyata dan dasyat, bahwa dunia Islam adalah sangat mundur semenjak muncur aturan taqlid. Bahwa dunia Islam adalah laksana bangkai hidup, semenjak ada anggapan bahwa Islam adalah mati geniusnya, semenjak ada anggapan bahwa mustahil ada mujtahid yang bisa melebihi “iman yang empat”, jadi harus mentaqlid saja kepada tiap kali atau ulama dari suatu mazhab imam yang empat itu! Alangkah baiknya, kalau kita punya pemuka agama melihat garis ke bawahnya sejarah semenjak ada taqlid-taqlidan itu, dan tidak hanya mati-redup, bagun-tidur dengan kitab fiqih dan kita parukunan saja!.

Salam kepada Saudara-saudara yang lain.

Wassalam

SUKARNO

=================================================

Apa yang terjadi di Jaman Bung Karno, masih terjadi di sini, pada saat ini. Ketika sedang menunggu waktu berbuka puasa, semua teve menyiarkan siraman rohani, ada yang menarik ibu saya berkomentar, “Kenapa yang dibicarakan hanya surga?, neraka?, dan pahala? . . . . . . . .

Sebenarnya komentar ibu saya masih panjang, mungkin bukan komentar, tetapi itu adalah kebingungan seorang awam, ibu saya adalah seorang awam yang sedang mencoba mengerti tetntang agama, namun selalu terbentur pada akherat, pada surga, pada neraka, pada pahala. Tidakah ada sesuatu yang lebih penting untuk diketahui?, untuk dipelajari?. Setidaknya itu yang saya dapat tangkap dari pertanyaan ibu saya.

Dan Bung Karno telah menjawabnya, SEJARAH !.

Di dalam sejarah terpapar dengan jelas pada masa siapa dan jaman apa Islam menjadi jaya dan berkembang dengan pesat, dan pada jaman apa Islam menjadi redup dan hanya menjadi alat politik kekuasaan.

Saya pernah menonton film documenter tentang Islam berdurasi sekitar 2 jam. Yang menerangkan tetang awal Islam dari lahirnya nabi Muhammad hingga meninggalnya sang Rasul. Kemudian penyebaran Islam, hingga lahirnya paham Wahabi menjelaskan dengan sangat gamblang sebab Islam menjadi redup. Yaitu pada masa ketika akal (ILM) di bekukan.

Pada masa itu, yang di bahas hanyalah tentang Jihad dalam pengertian sempit yaitu “perang” dan di gunakan untuk keperluan politik untuk meraih kekuasaan. Dan ini adalah tantangan buat kita semua, untuk kembali menemukan “Apinya Islam”, “Jiwanya Islam”, “Ruhnya Islam”. Dengan cara kembai menggunakan Akal (ILM).

Alasan kenapa orang Islam banyak yang menolak kemodernan barat, karena peristiwa ratusan tahun lalu, ketika perang salip terjadi. Peristiwa itu meninggal trauma di jiwa orang Islam, dan untuk membebaskannya orang Islam sendiri harus mempelajari sejarah, mencari sebab perang salib itu terjadi, dan mengakui kesalahan bahwa pada masa itu cita-cita Islam yang digagas oleh Sang Rasul sudah melenceng jauh dari cita-cita Sang Baginda Nabi.

Islam adalah Nikmat Bagi alam Semesta,

Islam adalah Anugrah.

Namun kemudian kenapa banyak orang yang menganggap Islam adalah sarangnya kekerasan?, hal itu karena kesalahan kita sendiri. Dan kesalahan itu ada di dalam garisnya sejarah, dan kita dapat menemukannya jika kita mau mempelajarinya.

Dan untuk sejarah negeri sendiri ada banyak hal yang perlu di pelajari tentang Islam, dan perlu juga diperbaiki. Berkisar dimasa akhir jaman Majahpahit, banyak sekali kejadian bersejarah tentang perkembangan Islam di Nusantara yang tidak kita ketahui dan tidak tercatat di dalam buku sejarah, kita harus mau dan berani menggalinya kembali agar kita dapat menyadari kesalahan yang terjadi. Dan dari sana kita akan dapat menarik garis ke sejarah Islam dunia.

=================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 6

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 22 Pebruari 1936

Assalamu’alaikum,

Belum juga saya bisa tulis artikel tentang nomor ektra taqlid sebagaimana saya janjikan, report “mereportir” sekolahnya anak saya, dan karena di Endeh ada datang seorang guru pesan golongan muda dari Banyuwangi, sehingga, walaupun mereka itu dua-duanya datang di Endeh untuk buat dagang, toch setiap malam mereka bertamu di rumah saya. Sampai jauh – jauh malam mereka berbincang-bincang satu sama lain dan kadang-kadang udara Endeh menjadi naik temperature hingga hamper 100 derajat! Saya tertawa saja, senang dapat melihat orang dari “dunia ramai” hanya menjaga saja jangan sampai udara itu terbakar sama sekali. Dan selamanya saya diminta menjadi hakim. Tak usah saya katakan Tuan, bahwa kehakiman saya itu, sering membikin tercengangnya guru pesantren, padahal seadil-adilnya menurut hukum!.

Karena rupanya berhadapan dengan orang Interniran politik, maka kawan muda ini bertanya “ bagaimana siasahnya, supaya jaman kemegahan Islam yang dulu-dulu itu bisa kembali ?”,
Saya punya jawab singkat : “Islam harus berani mengejar zaman” Bukan seratus tahun tapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat “mengejar” seribu tahun itu niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bahkan kembali kepada Islam – glory yang dulu bukan kembai kepada “zaman Khalifah”, tetapi lari kemuka, lari mengejar zaman, itu salah satu jalan buat menjadi gilang-gemilang kembali. Kenapa toch kita selamanya dapat ajaran, bahwa kita harus mengkopi “zaman khalifah” yang dulu-dulu? Sekarang tahun 1936, dan bukan tahun 700 atau 800 atau 900? Masyarakat bukan satu gerobak yang boleh kita “kembalikan” semau-mau kita? Masyarakat minta maju, maju ke depan, maju ke muka, maju ke tingkat yang “kemudian”, dan tak mau di suruh “kembali”.
Kenapa kita musti kembali kezaman “kebesaran Islam” yang dulu-dulu? Hukum syariat? Lupakah kita, bahwa hukum syariat itu bukan hanya haram, makruh, sunnah, dan fardu saja? Lupakah kita bahwa masih ada barang “mubah” atau “djaiz”? alangkah baiknya kalau umat Islam lebih ingat pula kepada yang mubah atau djaiz ini! Alangkah baiknya , kalau ia ingat, bahwa di dalam urusan dunia, di dalam urusan states manship, “boleh berqias, boleh berbid’ah, boleh membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru, boleh beradio, boleh mengambil cara-cara baru, boleh beradio, boleh berkapal-udara, boleh berlistrik, boleh bermodern, boleh berhyper-hyper modern”, asal tidak nyata dihukum haram atau makruh oleh Allah dan Rasul! Adalah suatu perjuangan yang paling berfaedah bagi umat Islam. Yakni perjuangan menentang kekolotan. Kalau Islam sudah bisa berjuang melawan kekolotan itu, barulah ia bisa lari secepat kilat mengejar zaman yang seribu tahun jaraknya kemuka itu. Perjuangan menghantam orthodoxie kebelakang, mengejar zaman kemuka, perjuangan inilah yang Kemal Ataturk masudkan, tatkala ia berkata, bawah “Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam mesjid memutar-mutar tasbih, tetapi Islam ialah perjuangan”. Islam is progress: Islam itu kemajuan!.

Tindakan-tindakan ulilamri-ulilamri zaman Islam – glory itu tidaklah, dan tidak boleh menjadi hukum bagi umat Islam yang tak boleh diubah atau ditambah lagi, tetapi hanyalah boleh kita pandang sebagai tingkat-tingkat perjalanannya sejarah, merely as historic degrees.

Bilakah kita punya penganjur-penganjur Islam mengerti falsafahnya historic degrees ini, membangun kecintaan membunuh “semangat – kurma” dan “semangat sorban” yang mau mengikat Islam kezaman kuno ratusan tahun yang lalu. Kecintaan berjuang mengejar zaman, kecintaan berqias dan ber bid’ah di lapangan dunia sampai ke puncak-puncaknya kemoderenan, kecintaaan berjuang melawan segala sesuatu yang mau menekan umat Islam kedalam kenistaan dan kehinaan ?.

Kabar Endeh sehat wal afiat. Bagaimana di sini?

Wassalam,

SUKARNO

=================================================

Membunuh kekolotan, melepaskan diri dari kekolotan, berjuang lepas dari kekolotan adalah sesuatu yang berat, perlu usaha extra, perlu banyak belajar, dan yang terpenting adalah mau berkorban, perlu adanya pengorbanan. Karena berat dan sulit itu, maka kemudian kita mencari cara Instan, mencari cara mudahnya saja, yaitu dengan menerapkan hukum syariat, seolah-olah jika hukum syariat di terapkan maka berkah Allah akan mengucur di bumi bumi Negara yang menerapkan, benarkah ?.

Sejenak kita mundur pada masa di mana sang Rasul hidup, yang terjadi pada waktu itu sang Rasul tidak diam dan duduk di dalam mesjid sambil memutar-mutar tasbih, tidak, sang Rasul tetap berjuang mencerdaskan masyrakat Mekah pada waktu itu. Sang rasul datang membawa pembaharuan kesadaran, dan pembaruan angin segar kesadaran akan selalu mendapat tentangan dari status quo yang akan merasa di rugikan jika banyak masyarakat yang tercerdaskan. Oleh karenanya kemudian status quo itu menyerang sang Rasul, dan sang Rasulpun terpaksa hijrah ke Madinah. Di Madinah inilah sang rasul mulai membangun masyrakat dengan menerapkan peraturan hukum, karena pada waktu itu di Madinah memang belum ada peraturan hukum yang layak, dan peraturan-peratun yang di buat oleh sang Rasul pada waktu itu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Madinah pada waktu itu, termasuk juga keluarnya peraturan tentang perang jihat karena pada waktu itu Medinah sedang di serang oleh orang-orang Mekah yang ingin menghancurkan sang Rasul karena merasa terancam oleh keharuman nama sang Rasul. Dari situ dapat kita simpulkan meski berada di dalam lindungan dan rahmat Allah, sang Rasul tetap harus berjuang, tetap harus belajar.

Apa yang terjadi jika kita mengetahui cara membeli tiket perjalanan wisata langsung pada sumbernya?, tentunya kita tidak memerlukan calo, namun kemudian kenapa calo tetap dapat hidup dan meraih keuntungan, jawabanya karena kita malas, kita ingin solusi instan. Dan inilah yang terjadi saat ini, dimana kita ingin menerapakan hukum syariat dengan harapan akan memperoleh kejayaan?. Dengarkanlah bung Karno agar kita dapat kembali pada sebuah kejayaan adalah dengan berjuang menentang kekolotan, berjuang untuk menjadi sadar, Bung Karno sudah memulai dari dirinya sendiri, saatnya kita meneruskannya dengan menyadarkan diri sendiri. Kesadaran itu akan menyebar dan perubahan akan terjadi.

=================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 7

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 22 April 1936

Assalamu’alaikum,

Tuan, post paket yang pertama sudah saya terima, post paket yang kedua sudah datang pula dikantor pos, tetapi belum saya ambil, karena masih ada satu dua kawan yang belum setor uang kepada saya padahal saya sendiri dalam keadaan “kering”, sebagai biasa, sehingga belum bisa menalanginya. Tapi dalam tempo tiga empat hari lagi , niscayalah kawan-kawan semua sudah setor penuh. Di dalam paket yang pertama itu, ada “ektra” lagi dari Tuan, yaitu biji jambu mede. Banyak terimakasih. Kami seisi rumah, itu hari pesta lagi biji jambu mede, seperti dulu. Juga saya mengucapkan banyak terimakasih atas Tuan punya hadiah buku serta pinjaman buku.

Kabar tentang berdirinya pesantren , sangat menggembirakan hati saya. Kalau boleh saya memajukan sedikit usul : hendaknya ditambah banyaknya “pengetahuan barat” yang hendak dikasihkan kepada murid-murid pesantren itu. Umumnya sangat saya sesalkan, bahwa kita punya Islam scholars masih sangat kurang sekali pengetahuan modern science. Walau yang sudah bertitel “mujtahid” dan ulama sekalipun banyak sekali yang masih mengecewakan, pengetahuannya banyak sekali yang kuarang berkualitas. Dan jangan tanya lagi bagaimana kita punya kiai-kiai muda! Saya tahu, Tuan punya pesantren bukan universitas, tapi alangkah baiknya kalau western science di situ di tambahkan banyak. Demi Allah “Islam Science” bukan hanya pengetahuan Al- Quran dan hadis saja; “Islam Science” adalah pengetahuan Alquran dan hadis plus pengetahuan umum. Walau tafsir-tafsir Al quran masyur pun dari jaman dulu orang sudah kasih title Tafsir yang “keramat” seperti misalnya Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Baidlawi, Tafsir Al-Mazhari dan lain-lain. Masih bercacat sekali, cacat-cacat yang saya maksudkan ialah misalnya bagaimanakah orang bisa mengerti betul-betul firman Tuhan, bahwa segala barang sesuatu itu dibikin olehnya “berjodoh-jodohan”, kalau tidak mengetahui biologi, tak mengetahui electron, tak mengetahui posotif dan negative, tak mengetahui aksi dan reaksi? Bagaimanakah orang bisa mengerti firmannya, bahwa “kamu melihat dan menyangka gunung-gunung itu barang keras, padahal semua itu berjalan selaku awan”, dan bahwa “sesungguhnya langit-langit itu asal mulannya serupa zat yang bersatu, lalu kami pecah-pecah dan kami jadikan segala barang yang hidup daripada air”, kalau tak mengetahui sedikit astronomi? Dan bagaimanakah mengerti ayat-ayat yang meriwayatkan Iskandar Zulkarnain, kalau tidak mengetahui sedikit histori dan arkhaeologi ?. Lihatlah itu blunder-blunder Islam sebagai “Sultan Iskandar” atau “Raja Firaun yang satu” atau perang badar yang membawa kematian ribuan manusia hingga orang berenang di lautan darah”! semua itu karena kurang penyelidikan histori, kurang scientific felling.

Alangkah baiknya Tuan punya mubaligh-mubaligh nanti bermutu tinggi, seperti Tuan M Natsir, misalnya! Saya punya keyakinan yang sedalam-dalamnya ialah, bawah Islam di sini, dan di seluruh dunia masih mempunyai sikap hidup secara kuno saja, menolak tiap-tiap “kebaratan” dan kemoderenan” . Al-Quran dan Hadis adalah kita punya wet yang tertinggi, tetapi Al-quran dan hadis itu, barulah bisa membawa kemajuan, suatu api yang menyala, kalau kita baca Al-Quran dan Hadislah yang mewajibkan kita menjadi cakrawala di lapangan segala science dan progress, di lapangan segala pengetahuan dan kemajuan. Kekolotan, kekunoan, kebodohan dan kemesuman itu menjadi sebab utama Headjaz dulu memaksa Ibnu Saud merombak kembali tiang radio Medinah. Kekunoan, kebodohan dan kemesuman itulah pula yang menjadi sebab banyak orang tak mengerti sahnya beberapa aturan-aturan baru yang di jadikan oleh Kemal Ataturk atau Riza Khan Pahlawi atau Jozep Stalin! Cara kuno dan mesum itulah, juga di atas lapangan ilmu tafsir, yang menjadi sebabnya seluruh dunia barat memandang Islam itu sebagai satu agama yang anti kemapanan dan yang sesasat. Tanyalah kepada itu ribuan orang Eropa yang masuk Islam di dalam abad kedua puluh ini; dengan cara apa dan dari siapa mereka mendapat pengetahuan baik dan bagusnya Islam, dan mereka akan menjawab; bukan dari guru-guru yang habnya menyuruh muridnya “beriman” dan “percaya” saja, bukan dari mubaligh-mubaligh yang tarik muka angker dan hanya tahu putaran tasbih saham tetapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal, karena berpengetahuan umum. Mereka masuk Islam, karena mubaligh-mubaligh yang menghela mereka itu ialah mubaligh-mubaligh yang modern dan scientific, dan bukan mubaligh “ala Hadramaut” atau “ala kiai bersorban”. Percayalah bahwa, bila Islam di propragandakan dengan cara yang masuk akal dan up to date, seluruh dunia akan sadar kepada kebenaran Islam itu. Saya sendiri, seorang terpelajar, barulah lebih banyak mendapat penghargaan kepada Islam, sesudah saya mendapat membaca buku-buku Islam yang modern dan scientitif. Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagaian besar ialah oleh karena Islam tak mau membarengi zaman, dan karena salahnya orang-orang yang mempropagandakan Islam, mereka kolot, mereka orthodox, mereka anti pengetahuan dan mereka memang tidak berpengetahuan, tahayul, jummud, menyuruh orang bertaqlid begitu saja, menyuruh orang “percaya begitu saja, mesum mbahnya mesum!.

Kita ini kaum yang anti taqlidisme? Bagi saya anti taqlidisme itu berarti bukan saja “kembali” kepada Al-quran dan Hadis, tetapi “Kembali kepada Al-quran dan hadis dengan menggunakan kendaraan pengetahuan umum”.

Tuan Hassan, maafkan saya bila saya punya obrolan ini. Benar satu obrolan, tapi satu obrolan yang keluar dari sedalam-dalamnya saya punya qalbu. Moga-moga Tuan suka perhatikannya berhubungan dengan Tuan punya pesantren. Hiduplah Tuan punya pesantren itu !.

Wasalam,

SUKARNO

=================================================

Sekali lagi saya harus menyatakan kekaguman saya terhada bung Karno adalah pada semanagat beliau untuk belajar, dalam kondisi yang “kering” beliau masih berusaha untuk mendapatkan buku-buku dan belajar. Suatu prilaku yang harus kita contoh, apa lagi jika mengklaim sebagai ‘fansnya bung Karno’. Saya punya seorang teman, aktifis, dan memiliki cita-cita tinggi dalam membuat pembaharuan di Indonesia, juga mengaku sebagai fansnya Bung Karno. Pada suatu waktu kami sempat berdiskusi mengenai politik dan budaya serta kejadian yang ada di Indonesia, tiba pada perbincangan tentang sejarah, karena kita tidak bisa melepaskan kejadian hari ini dengan kejadian masa lalu. Dengan agak bingung dia mendengarkan pemaparan saya mengenai sejarah masa lalu Indonesia terutama pada jaman Majapahit dan kesultanan Islam. Terjadi perdebatan kusir, dan kemudian saya berikan dia beberapa buku yang memberikan informasi tentang apa yang saya ungkapkan perihal sejarah tersebut, mau tahu apa responnya, “Wah gua rada males kalau baca sejarah”.

Walah, mau ngomong apa?. Saya sendiri harus bersusah payah membaca buku sejarah, karena memang mempelajari sejarah bukanlah hal yang mengenakan, gampang ngantuk, namun saya tetap membaca dan mempelajarinya.

Kemudian di acara gossip di teve ada seorang artis yang baru saja menikah ditanyai mengenai pernikahannya, jawabnya “Pokoknya kami akan menjalani seperti apa yang sudah diajarkan di dalam Al quran dan Hadis”, sang repoter bingung dan mulai mencari tahu, “Apa itu?”

Dan si artis juga kebingungan, mungkin benaknya juga bertanya “apa ya?”, namun gensi ada di depan kamera teve, dia kembali menegaskan dengan bahasa yang lebih keras, “Ya pokoknya harus sesuai dengan anjuran Al-quran dan Sunah Rasul”.

Wah, kira-kira apa ya ?.

Dan seperti itulah kondisi kita saat ini, kita menelam mentah-menatah segala sesuatu yang diberikan oleh pemuka agama, kita tidak lagi menggunakan akal dan pengetahuan untuk mengkaji. Bahkan apa yang di bicarakan oleh para ulama kita sangat dangkal hanya berkisaran dari neraka, surga, dan akherat. Itu saja, dengan bahasa yang berbeda dan dalil yang berbeda, namun intinya hanya 3 hal itu saja. Tidakah ada hal-hal lain yang lebih berarti untuk di aplikasikan ke dalam kehidupan, semisal “Kebersihan adalah sebagian dari pada Iman”. Lantas kemudian di implementasikan dengan cara menjaga kebersihan alam sekitar, lingkungan sekitar. Cara membuang sampah yang benar, menghindari penggunaan kantong plastik yang berlebihan dan banyak lagi yang dapat diambil dari pelajaran ilmu pengetahuan tentang alam, bukankah sekarang dunia senang asyik menggosipkan tentang global warming, go green. Andai ulama dan pemuka kita sedikit lebih cerdas, maka issu itu bisa diangkat untuk mencerdasakan masyrakat, en walah Islam akan dipandang di dunia sebagai salah satu agama yang turut menyelamatkan alam ini.

=================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 8

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh, 12 Juli 1936

Assalamu’alaikum,

Saudara! Saudara punya kartu pos sudah saya terima dengan girang. Syukur kepada Allah SWT punya usul Tuan terima!.

Buat menganjal saya punya rumah tangga yang kini kesempitan, saya punya onderstand dikurangi, padahal tadinya sudah sesak sekali buat mebelajari segala saya punya keperluan, maka sekarang saya lagi asyik mengerjakan terjemahan sebuah buku Inggris yang mentarikhkan Ibnu Saud. Bukan main hebatnya ini biografi! Saya jarang menjumpai biografi yang begitu menarik hati. Tebalnya buku Inggris itu, format Tuan punya tulisan “Al-Lisaan”, adalah 300 muka, terjemahan Indonesia akan menjadi 400 muka. Saya saudara tolong carikan orang yang mau beli copy itu barangkali saudara sendiri ada uang buat membelinya? Tolonglah melonggarkan rumah tangga saya yang disempitkan korting itu.

Bagi saya buku ini bukan saja satu ikhtiar ekonomi, tetapi adalah pula satu pengakuan, satu confenssion. Ia menggambarkan Ibnu Saud dan Wahhabism begitu rupa, mengkobar-kobarkan elemen amal, perbuatan begitu rupa hingga banyak kaum ‘tafakur’ dan kaum pengeramat Husain c.s akan kehilangan akal nanti sama sekali. Dengan menjalin ini buku, adalah suatu confenssion bagi saya bahwa, walaupun tidak semua mufakat tentang system Saudisme yang juga masih banyak feudal itu, toch menghormati dan kagum kepada pribadinya itu yang “toring above all moslems of his time; an Immense man, tremendous, vital, dominant. A gian thrown up of the chaos and agrory of the desert, to rule, following the example of this great teacher , Mohammad”. Selagi menggoyangkan saya punya pena buat menterjemahkan biografi ini, jiwa saya ikut bergetar karena kagum kepada pribadi orang yang digambarkan. What a man! Mudah-mudahan saya mendapat taufik menjelaskan terjemahan ini dengan cara yang bagus dan tak kecewa. Dan mudah-mudahan nanti ini buku, dibaca oleh banyak orang Indonesia, agar bisa mendapat inspirasi daripadanya. Sebab, sesungguhnya buku ini penuh dengan inspirasi. Inspirasi bagi kita punya bangsa yang begitu muram dan kelam hati. Inspirasi bagi kaum muslimin yang belum mengerti betul-betul artinya perkataan “Sunah Nabi”, yang mengira, bahwa Sunah Nabi SAW itu hanya makan kurma di bulan puasa dan cela mata dan sorban saja !.

Saudara, pelase tolonglah. Terimakasih lahir-batin, dunia – akherat.

Wassalam,

SOEKARNO

=====================================================

Saat ini banyak yang tidak dapat memisahkan antaran Islam dengan Faham Wahabi, Nama “Wahabisme” dan “Wahabi” berasal dari Muhammad ibn Abd al Wahhab (1703-1792). Nama ini diberikan orang-orang yang berada di luar gerakan tersebut, dan kerap kali dengan makna yang terkesan buruk, dangkal dan penuh dengan kekerasan.

Wahabisme, menurut Ulil, mempunyai akar dari seorang pemikir besar, Ibn Taimiyah beberapa abad sebelumnya. Dalam kontekstualisasinya, gerakan wahabi bersinggungan keras dengan kelompok tasawuf dan Islam Syi’ah. Bagi gerakan Wahabi, kelompok-kelompok tersebut tidak mengikuti ajaran seperti yang dicontohkan Rasul. Dalam tataran yang lebih luas kelompok ini berusaha untuk menyingkirkan segala macam bid’ah, khurafat, dan berbagai tindakan kesyirikan lainnya, dan secara tidak langsung mempunyai jasa besar melahirkan terorisme. (http://islamlib.com/id/artikel/arabisme-dan-gerakan-wahabi/)

Faham Wahabisme inilah yang mengkerdilkan Islam dimana Islam hanya di indetikan dengan wujud jasad saja, yaitu jubah, kopyah, sorban, jengot, celak mata, tasbih. Dan cenderung menafsirkan Islam dari satu sisi dangkal yaitu Jihad saja, Jihad yang diartikan sebagai Perang. Karena paham ini muncul ketika bangsa Arab ingin melepaskan diri dari cengkraman kebudayaan Turki. Oleh karennya perlu dipahami bawah Wahabisme bukan gerakan Islam, melainkan gerakan budaya yang menggunakan Islam sebagai jubahnya, mengcopy 100% apa-apa yang ada di jaman rasul di dalam proses pencarian jati diri dan pembentukan bangsa Arab (Saudi) , namun kemudian seiring waktu faham ini berubah menjadi doktrin, menjadi ajaran yang dirafsirkan untuk keperluan militer (perang), sehingga faham ini berisikan kekerasan dan kekunoan yang di ekpor ke seluruh dunia, tak aneh kemudian jika dunia memandang Islam sebagai wujud agama yang penuh kekerasan, karena yang disebar luaskan bukan ajaran islam, melainkan faham Wahabisme.

Sahabat saya Alphada Satriansa banyak mengulas tentang Wahabisme main-mainlah ke profile FBnya, namun sebelum mempelajari sesuatu terlebih dahulu ada yang harus dibenahi yaitu kekolotan, dengan cara membuka diri seluas-luasnya terhadap semua kemungkinan, tanpa itu kita tidak akan pernah bisa belajar. Tanpa membuka diri Inspirasi tidak akan mengisi cawan jika kita, padahal yang kita butuhkan hanyalah Inspirasi.

“Aku membuka diri ku terhadap segala macam kemungkinan”.

=====================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 9

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh , 18 Agustus 1936

Assalamu’alaikum,

Surat Tuan sudah saya terima. Terimakasih atas Tuan punya kecapaiannya telah mencarikan penerbit buku saya kesana-kesini. Moga-moga lekas dapat, manuscript yang begitu tebal, tinggal manuscript saja.

Tentang Tuan punya usul menulis buku yang lebih tipis, brosur saya akur. Memang brosur itu amat perlu tetapi saya ingin menyudahi satu buku lagi yang juga kurang lebih 400 muka tebalnya, yang rancangannya sekarang sudah selesai pula di dalam saya punya otak. Rakyat Indonesia, terutama kaum intellegensia, sudah mulai banyak yang senang membaca buku-buku bahasa sendiri yang “matang”, yang “thorough”. Ini alamat baik; sebab perpustakaan Indonesia buat 95% hanya buku-buku tipis saja, hanya brosur-brosur saja, tak sedikit gembira saya, waktu saya menerima buku bahasa Indonesia “Islam di tanah Cina” . Buku ini adalah satu contoh buku yang “thorough”, alangkah baiknya, kalau lebih banyak buku-buku itu di perpustakaan kita! Barang kali kita punya intellegensia tidak senantiasa terpaksa mencari makanan ruh dari buku-buku asing saja. Ini tidak berarti , bahwa saya tak mufakat orang baca buku asing. Tidak! Semua buku ada faedahnya, makin banyak baca buku, makin baik. Walau buku bahasa hottento-pun baik kita baca! Tetapi janganlah perpustakaan kita sendiri berisi nihil, sebagai keadaan sekarang ini. Tuan kata, buku tipis lebih murah harganya, tapi bagi kaum intellegensia juga mengeluarkan banyak uang bagi buku-buku asing? Toch kita punya kaum yang mampu juga banyak mengeluarkan uang buat pakaian, buat bioskop , atau buat kesenangan lain-lain? Sebenarnya harga satu buku tidak menjadi ukuran laku tidaknya buku itu nanti; yang menjadi ukuran, adalah kandungan buku itu; isi buku itu, digemari orang atau tidak. Bagi kaum marhaen, ia memang, zaman sekarang ini zaman berat. Tapi tidak keberatan buku-buku tebal itu dijadikan “penerbitan untuk rakyat”, atau di pecah-pecah menjadi empat jilid, sehingga meringankan bagi marhaen. (sebenarnya kurang baik memecah buku menjadi jilid-jilid yang kecil). Tetapi dalam pada saya menganjurkan penerbitan lebih banyak buku tebal dan thorough itu, saya akui faedah brosur. Sebagai alat propaganda , brosur adalah sangat perlu. Insya Allah saya akan tulis brosur tentang faham jaiz di dalam hal keduniaan. Di dalam salah satu surat saya yang terdahulu, saya sudah sedikit singgung perihal ini. Kita punya perikehidupan Islam, kita punya ingatan-ingatan Islam, kita punya ideology Islam, sangatlah terkungkung oleh keinginan mengkopy 100% segala keadaan dan cara-cara dari jaman Rasul SAW, dan khalifah yang besar. Kita tidak ingat, bahwa masyarakat itu adalah barang yang tidak diam, tidak tetap, tidak “mati” tetapi “hidup” mengalir berubah senantiasa, mau, berevolusi, dinamis. Kita tidak ingat bahwa Nabi Saw sendiri telah menjaizkan urusan dunia menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan urusan dunia yang baik yang tidak haram atau makruh. Kita royal sekali dengan perkataan “Kafir, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir” pengetahuan barat kafir, radio dan kedokteran kafir; pantaloon dan sadal dan topi kafir, sendok dan garpu dan kursi kafir, tulisan latin kafir; ia bergaulan dengan bangsa bukan Islampun Kafir! Padahal apa-apa yang kita namakan Islam? Bukan ruh Islam yang berkobar-kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan amal Islam yang menagumkan, tetapi…. Dupa dan korma dan jubah dan celak mata! Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa yang matanya di celak jubahnya panjang dan memengang tasbih yang selalu berputar, dia , dialah yang kita namakan Islam. Astagfirullah! Inikah Islam? Inikah agama Allah? Yang mengkafirkan radio dan listrik, mengkafirkan kemoderenan dan ke up to date-tan? Yang mau tinggal mesum saja, tinggal kuno saja, yang terbelakang saja, tinggal “naik unta” dan makan “zonder sendok” saja “seperti di zaman nabi dan khalifahnya? yang menjadi marah dan murka kalau mendengar tentang diadakannya aturan-aturan baru di Turki atau Iran atau Mesir atau di lain-lain negeri Islam ditanah Barat ?.

Islam is progress, Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam salah satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan karena fardu, kemajuan karena sunah, tetapi juga kemajuan karena di luaskan dilapangkan oleh aturan. Djaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batasan-batasannya zaman. Islam is progress. Progress berarti barang baru, barang baru yang lebih sempurna yang lebih tinggi tingkatnya dari pada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, creation baru, bukan mengulangi barang yang dulu, bukan mencopy barang yang lama , tidak boleh mau mengulangi zamannya “khalifah-khalifah yang besar “ itu Tidaklah di dalam langkahnya zaman yang lebih dari seribu tahun itu prikemanusiaan mendapat sistem-sistem baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatannya daripada dahulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakan sistem-sistem baru yang cocok dengan keperluan zaman itu sendiri? Apinya zaman khalifah-khalifa yang besar itu ?Ach, lupakah kita, bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang “menganggitkan”, bukan mereka yang “mengarangkan”? bahwa mereka “mencatat” saja itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari kalam Allah dan Sunnah rasul ?.

Tetapi apa yang kita “catat” dari Kalam Allah dan Sunnah rasul itu ? bukan apinya, bukan nyalanya, bukan flamenya, tetapi abunya, debunya, absesnya. Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyan dan tunggangan unta, abunya yang berisfat Islam mulut dan Islam ibadat zonder taqwa, abunya yang Cuma tahu baca Fatihah dan tahlil saja, tetapi bukan apinya, yang menyala-nyala dari ujung zaman satu keujungan zaman yang lain. Tarikh Islam, kita baca tetapi kitab-kitab tarikh Islam itu tidak mampu menunjukan dinamika law of progress yang menjadi nyamanya dan tenaga-tenaganya zaman-zaman yang digambarkan, tidak bisa mengasih falsafah sejarah, dan hanyalah habis-habisan kata memuluk-mulukan dan mengkeramat-keramatkan pahlawan-pahlawannya saja. Kitab-kitab tarikh ada begitu, betapakah umat Islam umumnya, betapakah si Dulah dan Si Amat, betapakah si Minah dan Si Maryam ? Betapakah si Dulah dan si Amat dan Minah dan Maryam itu, kalau mereka malahan lagi hari-hari dan tahun-tahun di cekoki faham-faham kuno dan kolot, tahayul dan mesum, anti kemajuan dan anti kemoderenan, hadramautisme yang jumud maha jumud ?.

Sesungguhnya Tuan Hassan, sudah lama waktunya kita wajib membrantas faham-faham yang mengkafirkan segala kemajuan dan kecerdasan itu, membelenggu segala nafsu kemajuan dengan membelenggunya : “ini haram, itu makruh”, padahal djaiz atau mubah semata-mata! Insya Allah, dalam dua-tiga bulan brosur itu selesai!.

Wassalam,

SUKARNO.

=====================================================

Satu hal yang sama dari jaman bung karno hingga saat ini bahwa kita lebih suka menghabiskan uang untuk pergi ke café, nonton bioskop, dugem dibandingkan membeli buku. Berapa persen uang dari penghasilan kita yang kita anggarkan buat beli buku ?.

Buat bung Karno setiap zaman memiliki keunikannya sendiri, karena zaman adalah sesuatu yang dinamis, suatu yang hidup. Oleh karenya kita tidak akan pernah bisa mengcopy apa yang terjadi di suatu jaman, dan upaya-upaya kita mengkopy apa yang terjadi di jaman rasul dan khalifahnya akan sia-sia karena bertentangan dengan tuntunan jaman itu sendiri, dengan kehendak jaman itu sendiri.

=====================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 10

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Endeh , 17 Oktober 1936

Assalamu’alaikum,

Dua surat terakhir, sudah saya terima. Baru ini hari ada kapal ke Jawa buat membalas kedua surat itu. Itulah sebabnya balasan ini ada terlambat.

Tuan tanya , apakah Tuan boleh mencetak saya punya surat-surat kepada Tuan itu? Sudah tentu boleh. Tuan ! Saya tidak ada keberatan apa-apa atas percetakan itu. Dan malahan barangkali ada baiknya orang mengetahui surat-surat itu. Sebab, di dalam surat-surat itu ada adalah saya teteskan bagian dari saya punya jiwa, dari jiwa yang Islamnya hanya raba-raba saja menjadi jiwa yang Islamnya yakin, dari jiwa yang mengetahui menjadi jiwa yang Islamnya yakin, dari jiwa yang mengetahui adanya Tuhan, tetapi belum mengenal Tuhan, menjadi jiwa yang sehari-hari berhadapan dengan Dia, dari jiwa yang banyak falsafah ketuhan tetapi belum mengamalkan ketuhanannya itu menjadi jiwa sehari-hari menyembah kepadaNya. Saya wajib berterimakasih kepada Allah Subhanahu wata’ala, yang mengadakan perbaikan saya punya jiwa yang demikian itu, dan kepada semua orang, antaranya tidak sedikit kepada Tuan, yang membantu kepada perbaikan itu. Sebagai tanda terimakasih kepada Allah dan manusia itulah saya meluluskan permintaan Tuan akan mengumkan surat-surat saya itu.

Bebarapa waktu lalu ada orang menulis satu entrefilet di dalam surat kabar “pemandangan”, bahwa saya sekarang gemar Islam banyak orang yang heran membaca khabar itu, begitulah katanya kata salah seorang teman dari jawa yang menulis sepucuk surat selamat kepada saya berhubungan dengan entrefilet itu. En toch, bagi siapa yang mengenal saya betul-betul dan tidak hanya oppervalkking saja, bagi siapa saya yang mengetahui seluk beluknya saya punya jiwa sekarang dari umur delapan belas tahun, bagi siapa yang pernah menyelami samudera saya punya nyawa sampai kebagian-bagian paling dalam, bagi dia bukanlah barang yang “mengherankan” lagi bahwa saya “sekarang gemar Islam”. Bukan satu “alamat” bahwasannya bahwa dulu saya anggota sarekat Islam, dan kemudian juga anggota parta sarekat Islam dan kemudan pula meninggalkan P.S.I itu hanya karena tak mufakat 100% dengan partai itu, dan bukan karena benci kepada Islam? Bukan suatu “alamat” bahwa saya di dalam kurungan penjara suka miskin yang pertama kali ada membikin banyak studi Islam itu, dan “Java Bode” membikin gambar sindiran lucu yang sampai sekarang saya simpan di saya punya album? Bukankah suatu “alamat”, akhirnya bahwa kebanyakan saya punya ucap-ucapan dulu itu menunjukan satu “dasar mistik”, satu “dasar ke Tuhan-an” yang betul nyata menunjuk kejurusan itu ? Dan bilamana saya dulu kadang-kadang mengeluarkan ucapan-ucapan yang membangun kesan anti Islam diatas sesuatu masalah Islam, maka itu bukan karena menentang Islam karena anti-Islam “an sich” tetapi hanyalah tidak senang melihat keadaan-keadaan di kalangan umat Islam yang membangunkan amarah dan kejengkelan saya.

Dan sekarangpun, Tuan Hassan, sekarangpun, yang saya, Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah dan pertolongan Tuan dan pertolongan orang-orang lain, sudah lebih mengenal bulat dan lebih yakin ke-Islam-an saya itu, sekarang hati saya malahan menjadi lebih luka dan gegetun kalau saya melihat keadaan di kalangan umat Islam yang seakan menentang Allah dan menentang Rasul itu. Lebih luka dan lebih gegetun kalau saya melihat kejumudah dan kekunoan guru-guru dan kiai-kiai Islam, lebih luka dan gegetun kalau melihat mereka mengokoh-ngokohkan taqlidisme, lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat dilancang-lancangkannya dan dimain-mainkannya poligami, lebih luka dan gegtun kalau melihat degradation Islam menjadi “agama celak” dan “agama sorban”, lebih luka dan gegetun melihat kenistaan umum dan kehinaan umum yang seakan akan menjadi “patent” dunia Islam itu. Ach, Tuan Hassan, sekarang barangkali kaum kolot sudah sedia dengan putusan kehakimannya yang mengatakan saya “anti Islam”, “mau mengadakan agama baru” , “murtad dari Ahlussunah wal jama’ah, “charidiji” dan “qadiani” , dan macam-macam sebutan yang kocak-kocak dan segar-segar………. (bersambung)

=====================================================

Buat bung Karno agama harus diamalkan ke dalam prilaku, dan hal itu baru bisa jika sipelaku sudah memiliki keyakinan yang berasalkan dari pengalaman pribadinya. Pengalaman pribadinya itu melahirkan ilmu dan ilmu itu terimplementasikan ke dalam prilaku sehari-hari. Bagi bung Karno tidak cukup mengetahui tentang Tuhan, melainkan harus merasakan kehadiran Tuhan agar dapat senantiasa sujud dan mengabdi kepadaNya. Tuhan harus merasuk ke dalam prilaku sehari-hari.

Dan apa yang diperbuat oleh bung Karno semata-mata untuk membangunkan kita semua, terutama umat Islam agar keluar dari kekolotan. Karena kekolotan itu membuat kita seolah-olah beragama Islam namun prilaku kita keluar dari keislaman. Semisal gemar mempertontonkan kekerasan, gemar berpoligami, anti ilmu pengetahuan, anti keberagaman, anti kemanusiaan dan lain sebagainya.

Dan para pembaharu seperti bung Karno selalu akan di katakan murtad, kafir, sesat dan sebutan-sebutan caci maki lainnya, namun semua itu tidak menyurutkan langkah bung Karno karena bung Karno meyakini keimanannya, meyakini ke-Tuhan-annya.

=====================================================

Surat–surat Islam dari Endeh 11

(Surat menyurat Ir. Soekarno kepada Tuan A. Hasan, Guru “Persatuan Islam” Bandung 1 Desember 1934 hingga 25 Nopember 1936 , Sumber refrensi : Islam Sontoloyo : Pikiran-Pikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam – Ir Soekarno – Sega Arsy 2010)

Dan sekarangpun, Tuan Hassan, sekarangpun, yang saya, Alhamdulilah, berkat pertolongan Allah dan pertolongan Tuan dan pertolongan orang-orang lain, sudah lebih mengenal bulat dan lebih yakin ke-Islam-an saya itu, sekarang hati saya malahan menjadi lebih luka dan gegetun kalau saya melihat keadaan di kalangan umat Islam yang seakan menentang Allah dan menentang Rasul itu. Lebih luka dan lebih gegetun kalau saya melihat kejumudah dan kekunoan guru-guru dan kiai-kiai Islam, lebih luka dan gegetun kalau melihat mereka mengokoh-ngokohkan taqlidisme, lebih luka dan lebih gegetun kalau melihat dilancang-lancangkannya dan dimain-mainkannya poligami, lebih luka dan gegtun kalau melihat degradation Islam menjadi “agama celak” dan “agama sorban”, lebih luka dan gegetun melihat kenistaan umum dan kehinaan umum yang seakan akan menjadi “patent” dunia Islam itu. Ach, Tuan Hassan, sekarang barangkali kaum kolot sudah sedia dengan putusan kehakimannya yang mengatakan saya “anti Islam”, “mau mengadakan agama baru” , “murtad dari Ahlussunah wal jama’ah, “charidiji” dan “qadiani” , dan macam-macam sebutan yang kocak-kocak dan segar-segar. Biar! Zaman nanti akan membuktikan, bahwa kaum muda tulus dan ikhlas mengabdi kepada kebenaran, tulus dan ikhlas mengabdi kepada Tuhan. Zaman nanti akan membawa persaksian, bahwa kita punya ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan bukan “membuat agama baru” , bukan buat “mengubah hukum-hukum Allah dan Rasul”. Justeru buat, mengembalikan agama yang asli dan mengindahkan hukum-hukumnya Allah dan Rasul. Belum pernah disejarah dunia ada tulisan, bahawa suatu reform movement tidak dapat perlawanan dari kaum yang jumud, belum pernah sejarah dunia itu menyaksikan bahwa suatu pergerakan yang mau membongkar adat-adat salah satu dan ideology-ideologi salah yang telah berwindu-windu dan berabad-abad bersulur dan berakar pada suatau rakayat, tidak membangun reaksi hebat dari pihak jumud yang membela adat-adat ideology itu. Silahkan kaum mudah berkerja terus. Tapi dalam pada kaum muda berkerja terus itu haruslah mereka menjaga, jangan sampai mereka mengadakan perpecahan dan permusuhan satu sama lain di kalangan umat Islam, jangan sampai mereka meanggar perintah Allah dan “berpegang kepada agama Allah dan jangan bercerai berai” dan jangan samapai mereka “menggenuki umat sendiri, lupa kepada umat yang besar”

Ini, inilah memang kesukarannya kerja yang harus diselesaikan oleh kaum mudah itu: memberantras adat-adat salah dan ideology-ideologi salah tapi tidak mebermusuhan dengan kaum yang karena “belum tahu”, membela kepada adat-adat salah dan ideologi-ideologi salah itu; menwarkan adat-adat benar dan ideology-idologi benar itu; mengoperasi tubuh Islam dari bisul-bisulnya menjadi potongan-potongan yang membinasakan keselamatan tubuh itu sama sekali.

Renaissance-paedagogie, mendidik supaya bangun kembali, itu, itulah yang harus dikerjakan oleh kaum muda, itulah yang harus mereka “System-kan” , dan bukan separatism dan perang saudara. Bahagialah kaum muda yang dikasih kesempatan mengerjakan renaissance-paedagogie itu, bahagialah kaum mudah yang di takdirkan menjadi pahlawam-pahlawan renaissance – paedagogie itu.

Sampaikanlah saya punya salam kepada mereaka semua, sampaikanlah saya punya doa kepada mereka semua. Kepada Tuan sendiri, salam dan pembaTuan doa itu saya bubuhi ucapapan terimakasih atas Tuan punya pertolongan-pertolongan pribadi kepada saya, lahir batin.

Wasallam,

SUKARNO

(Selesai)

=====================================================

Setiap pembaharu akan di tolak, ingat kasus Galileo , Galileo Galilei (lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 – meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642 pada umur 77 tahun) adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah.

Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai observasi astronomi, dan hukum gerak pertama dan kedua (dinamika). Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernicus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.

Akibat pandangannya yang disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.

Zaman telah mencatat kebenaran tentang pemikirannya itu. Oleh karenanya buat siapapun yang sedang ingin keluar dari kekolotan akan mendapat tentang hebat, akan mendapat caci maki dan hujatan, namun berkacalah kepada bung Karno, berkacalah pada prilaku beliau dan tauladanilah, semangatlah dan tetaplah memberdaya diri.

Zaman akan mencatat siapapun yang sedang berupaya untuk meruntuhkan kekolotan, dan bersukurlah kepada Dia yang maha satu adaNya jikalau kebetulan kita mendapati peranan sebagai pendobrak kekolotan, terimalah peranan itu dengan suka cita karena itu adalah peranan agung. Tetaplah menggali dan menggali apa pun yang terjadi jangan pernah berhenti samapai nafas terakhir berhembus.

Surat menyurat ini selesai di sini, namun ke depannya masih ada guratan jiwa bung Karno yang dapat kita selami, dapat kita hayati. Yaitu berbentuk artikel-artikel yang dapat mengugah kesaran kita, dapat mengilhami inspirasi kita dalam mengisi hidup ini, dalam melakoni peranan di kehidupan ini. Saya akan mencoba mengharikan artikel-artikel buah karya bung Karno secara bersambung, dengan harapan jiwa bapak bangsa kita ini dapat merasuk dan memberikan ispirasi buat kita semua, seperti apa yang di katakana oleh Bung Karno bahwa yang kita butuhkan hanyalah inspirasi.

Tidak Percaya bahwa Mirza Gulam Ahmad Adalah Nabi (Endeh, 25 Nopember 1936)
Tabir Adalah Lambang Perbudakan (Pani Islam , 1939)
Minta Hukum Yang Pasti Dalam Soal “Tabir ( Surat terbuka kepad K.H.M Mansur ketua H.B Muhammadiyah )
Memudahkan Pengertian Islam (Panji Islam , 1940)
Apa Sebab Turki Memisahkan Agama Dari Negara ?
Saya Kurang Dinamis (Panji Islam, 1940)
Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (Panji Islam, 1940)
Islam Sontoloyo (Pani Islam, 1940)
Bloedtrasfusie Dan sebagian Ulama (Panji Islam, 1941)

Source: http://www.kompasiana.com/surahman

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: